Bagaimana Cara Menulis Arikel Ilmiah?

Saya dipercaya mengajar di Universitas Kristen Petra sejak tahun 2012. Waktu itu mengajar di Fakultas Desain Komunikasi Visual untuk mata kuliah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi mata kuliah wajib tempuh di seluruh universitas di Indonesia.

Pada mata kuliah Bahasa Indonesia di universitas lebih ditekankan pada pengajaran kepenulisan dan tehnik presentasi. Kepenulisan yang saya ajarkan yakni menulis artikel ilmiah, makalah, dan public speaking.

Materi Menulis artikel saya sampaikan pada awal pertemuan.

 

Tidak mudah mengajarkan tentang cara menulis artikel meskipun pada mahasiswa karena mereka lebih suka berbicara dibandingkan menulis.

Pertemuan pertama saya langsung melatih mereka dengan free writing.  Alasan saya, “free writing” dapat melatih seorang penulis untuk mengeluarkan sesuatu yang “original” dari dalam dirinya. Bagaimana mendeteksi bahwa sesuatu yang “original” telah dapat dikeluarkan?

 

Teknik yang kedua, yang disebut “mindmapping” atau “clustering” , saya manfaatkan untuk memilih dan mengembangkan ide dalam bentuk “peta” (gambar). Dalam menggunakan teknik ini, saya tidak merujuk ke Tony Buzan (penemunya), melainkan ke Dr. Gabriele Luser Rico.

Rico mengadopsi “mindmapping” menjadi “clustering” . Salah satu pesan Rico yang sangat penting adalah menulislah sesuatu secara sedikit demi sedikit. Menulis harus dikembangkan perlahan-lahan secara kelompok demi kelompok ide.

Bagaimana penerapannya?

Penerapan teknik “clustering” hampir persis dengan penerapan teknik “mindmapping” : Ambil selembar kertas ukuran A4 dan posisikan secara landscape. Di tengah kertas, tuliskanlah topik yang ingin dieksplorasi secara tertulis. Topik tersebut ingin kita kembangkan menjadi sebuah ide yang menarik (up to date).

Misalnya, kita ingin menulis tentang kursi. Topik tentang kursi ini ingin kita kembangkan menjadi tulisan yang tidak biasa-biasa saja dan, nantinya, di dalam pengembangan itu kita dapat menemukan sebuah ide baru. Nah, langkah pertama yang harus kita tempuh adalah dengan meletakkan kata KURSI persis di tengah kertas A4.

Setelah itu, tariklah empat garis yang memancar dari tulisan KURSI menuju empat arah berbeda. Pandangi secara saksama empat garis itu. Kemudian, secara spontan, bubuhkan satu kata tanpa berpikir di atas keempat garis tersebut. Karena tanpa dipikirkan lagi, diharapkan keempat kata itu tidak ada yang berkaitan dengan kata kursi.

Misalnya saja, empat kata yang kita tuliskan adalah ufuk, meja, bau, dan duku. Kata meja jelas masih ada hubungannya dengan kursi. Untuk mendapatkan dan mengembangkan ide yang baru, kata meja ini terpaksa kita coret. Yang tersisa adalah ufuk, bau, dan duku.

bau   ⇐              ⇒         ufuk

kursi.jpg                                                           duku    ⇐                     ⇒meja

Dari ketiga kata tersisa, kita harus memilih satu kata. Misalnya, yang kita pilih adalah ufuk. Apa hubungannya kursi dan ufuk? Ya, jelas tidak ada. Pada tahap ini, kita harus berani berpikir untuk mengubah perspektif dalam memandang kata kursi.

Langkah selanjutnya yakni menggunakan jalur kursi-ufuk untuk mengembangkan ide. Buatlah tiga garis cabang dari jalur (garis) kursi-ufuk yang titiknya dari kata ufuk. Lalu bubuhkan tiga kata lagi secara spontan di atas tiga garis cabang tersebut. Misalnya kita membubuhkan kata merah, darah, dan utang.

kursi-ufuk        

                                                                                  ↓          ↓            ↓

                                 merah    darah    utang↓

Pengembangan ide telah mencapai tahap kedua dan menurut Rico, kita harus berhenti dan meng-cluster ide kita itu. Untuk meng-cluster jalur kursi-ufuk, kita harus memilih satu kata dari tiga kata cabang yang ada. Misalnya, kita memilih kata MERAH.

Nah, sampai di sini, kita telah menemukan jalur kursi-ufuk-merah. Setelah kita menemukan tiga kata ini, cobalah tulis dengan menggunakan tiga kata tersebut-kursi, ufuk, merah-untuk menemukan sebuah ide yang lain daripada yang lain.

Selamat berlatih.

Advertisements

Gunakan Gaya Menulismu Sendiri

Di dalam artikel berjudul “Sebelum memutuskan menjadi penulis ketahui dulu 10 hal-penting-ini”, berisi pedoman bagaimana jika kita mau menulis. Salah satu dari sepuluh hal penting ialah gunakan gaya menulismu sendiri.

Kita terlahir dengan segala keunikan yang menyerta. Kita boleh menulis dengan tema yang sama dengan yang orang lain kerjakan, tapi tidak dalam cara kita memaknai, mengemas, dan juga menuturkan.

Mengapa kita harus menjiplak gaya penulis lain? Biarlah mereka tetap dengan gaya mereka. Kita bangun gaya sendiri. Menjadikan mereka inspirasi itu berbeda dengan duplikasi. Jika kita ingin menjadikan mereka menjadi lompatan awal prestasi, maka kita gunakan benchmarking, yaitu sikap total addicted dengan penulis pujaan.

Suka dengan gaya menulisnya J.K. Rowling pengarang serial Harry Potter itu? Maka, bacalah semua buku-bukunya. Perhatikan benar bagaimana cara dia membangun kalimat. Cara dia meletakkan titik dan komanya. Cara dia membuka dan menutup paragraf. Cara dia membangun karakter. Cara dia mengatur setting yang apik. Cara dia mengejutkan pembaca dengan hal-hal seru. Jadilah kecanduan benar dengan semua yang berhubungan dengan dia. Kuasai semua. Jadilah mata-mata untuk semua karya-karyanya. Baik itu berupa buku ataupun hanya sekadar artikel darinya.

Setelah semua itu dilakukan, timang-timang, serap, saring, kemudian campurkan dengan gaya kita sendiri. Kita berguru kepadanya, kemudian mengolah dengan kanuragan kita sendiri. Kita mengupas habis keunggulannya, kemudian dipadukan dengan keunggulan kita sendiri. Di dua keunggulan yang tergabung menjadi satu itulah, kita melakukan lompatan prestasi.

Nalarnya sederhana. Saat pembaca memegang erat karyamu, mereka sedang ingin membaca karya kamu, bukan karya J.K. Rowling. Tapi, bila kau menggunakan mentah-mentah cara J.K. Rowling, untuk apa mereka membaca karyamu? Seharusnya mereka langsung membaca karya Rowling. Sederhana sekali.

sumber: sebelum-memutuskan-menjadi-penulis-ketahui-dulu-10-hal-penting-ini

Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing

Jumlah warga asing dan siswa asing yang mau sekolah di Indonesia cukup banyak. Apalagi untuk dapat bergaul dengan masyarakat Indonesia, orang asing harus bisa berbahasa Indonesia. Hal ini terkait juga dengan peraturan tentang diharuskannya UJI Kompetensi Berbahasa Indonesia bagi orang asing yang bekerja di Indonesia. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing sangat dibutuhkan.

Kali ini saya akan ajarkan cara berbahasa Indonesia bagi penutur asing sebagai berikut:

Pertama, cara pelafalan bahasa Indonesia cukup mudah karena diucapkan sesuai bunyi huruf/fonemnya, dengan terkecuali. Misalkan pelafalan huruf /a/, buka mulut dan keluarkan suara seperti biasanya, maka akan keluar bunyi huruf /a/. Mengenai hal tersebut akan lebih di bahas pada bagian Fonologi Bahasa Indonesia.

PEMBELAJARAN PERTAMA
Firstly, let’s we know the kosakata (vocabulary), ucapan-ucapan (greetings), and recognize a simple conversations.

Saya / aku = I
Anda / kamu = you
Dia = she/he
Ayah / bapak = fahter
Bunda / ibu = mother
Kakak = elder sister / elder brother
Adik = young sister / young brother

Pagi = morning
Siang/sore = noon/afternoon
Malam = night

Menulis = write
Makan = eat (verb)
Makanan = food (noun)
Minum = drink (verb)
Minuman = drink (noun)
Lapar = hungrys
Tidur = sleep

Senang = happy
Sedih = sad
Marah = angry
Lelah = tired

Nama = name
Dari = from
Untuk = to/for
Hari ini = today
Besok = tomorrow
Kemarin = yesterday

GREETING
Selamat pagi = good morning
Selamat malam = good night
Selamat tidur (if your friend will go to sleep)
Selamat makan (pronounceable before eat)
Selamat jalan = good bye

Saya lapar = I’m hungry
Saya lelah = I’m tired
Saya cantik = I’m beautiful
Kamu cantik = You’re beautiful (for girl/woman)
Kamu tampan = You’re handsome (for man)
Kamu keren = You’re cool.
Saya sayang kamu = I love you

Saya mempunyai dua adik perempuan = I have two sisters.

Ayah saya seorang guru matematika = My father is a mathematics teacher.

Saya suka lagu-lagu Super Junior = I likes Super Junior songs.

Kamu teman terbaikku = You’re my best friend.

Saya sedang belajar Bahasa Indonesia = I’m study Indonesia language.

Hobi saya bernyanyi = My hobby is singing.

Saya ingin boneka itu = I want that doll.

Ayo bermain petak umpet! = Let’s play hide and seek.

Kemarin saya pergi ke Bali = Yesterday I went to Bali.

Hari ini saya pergi ke rumah Zeynep = Today I go to Zeynep house.

Besok saya akan pergi ke Korea = Tomorrow I will go to Korea.

 

Sekarang, untuk penutur asing yang baru pertama kali belajar Bahasa Indonesia, saya akan mengajak Anda untuk mengetahui percakapan (dialog) dalam Bahasa Indonesia yang mudah, sederhana, dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.

 

Look the examples dialogue above!

sumber: cara cepat belajar Bahasa Indonesia

Mantra di dalam Puisi Lama Indonesia

kolom_mantra_sutra

Mantra adalah kata atau ucapan yang mengandung hikmah dan kekuatan gaib. Kekuatan mantra dianggap dapat menyembuhkan atau mendatangkan celaka. Keberadaan mantra dalam masyarakat Melayu pada mulanyabukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat kepercayaan.

Adapun kumpulan mantra sebagai berikut.

1. Mantra orang menyadap nira (bahan untuk gula aren/gula jawa)
Assalamu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
sumber

2. Mantra pengobat sakit perut
Gelang-gelang si gali-gali
malukut kepala padi
Air susu keruh asalmu jadi
aku sapa tidak berbunyi

3. Mantra berburu rusa
Sirih lontar pinang lontar
terletak diujung muara
Hantu buta jembalang buta
aku angkat jembalang rusa

4. Mantra untuk mengobati orang dari pengaruh makhluk halus.
Sihir lontar pinang lontar
terletak diujung bumi
Setan buta jembalang buta
aku sapa tidak berbunyi

5. Mantra agar anjing tidak menggonggong
kepada rimba sekampung,
Pulanglah engkau kepada rimba yang besar,
Pulanglah engkau kepada gunung guntung,
Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu,
Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang,
Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering,
Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.

6. Mantra Pengusir Babi
Batu berita batu berani
Ketiga batu belubang
Butak mata tanggal gigi
Babi itu tiada akan melawan
Nabi babi itu nabi Yusuf
Asal jadi dari bumi
Jihin yang menguatkannya jihin buhok
Yang berkuda padanya Saih Idris

7. Mantra Kuat Tenaga
Bismillahirrahmanirrohim
Hai besi bangunlah engkau si rajabesi
Yang bernama si ganda bisa
Engkau duduk di kepala jantungku
Bersandar di tiang arasy
Kuminta tinggalkan insanku
Kuminta rendah insan sekalian
Berkat aku memakai wujud kodrat sayyidina ali
Bujur lalu melintang patah
Lalu juga kehendak Allah
Berkat lailaha illallah
Muhammadarrasulullah

8. Mantra Pengeras Badan
Ya man, ya ras, ya Malik
Ya kuserahkan kepada kamu

9. Mantra penutup luka
Mantra ini dibaca untuk menutupluka, ataupun untuk mencegah berlanjutnya pendarahan pada luka.
Bismillahirrahmanirrahim
Poli terpoli
Besi meluka
Besi menangkal
Coba besi merusakkan
Engkau durhaka kepada Allah
Coba engkau membinasakan daging
Engkau durhaka kepada Allah
Tertutup terkunci
Tertanggal terpakai
Berkat doa la haula wala quwwata
Illa billahil aliyyil azhim

10. Mantra untuk merawat tulang yang patah.
Bismillahi Rahmanir Rahim
Jong sengkang kemudi sengkang
Tarik layar kembang sena
Urat yang kendur sudah kutegang
Urat yang putus sudah kusambung
Teguh Allah, tegang Muhammad
Sendi anggota baginda Ali
Tulang gajah, tulang mina
Ketiga dengan tulang angsa
Patah tulang berganti sendi
Badan jangan rusak binasa
Berkat sidi kepada guru
Sidi menjadi kepada aku
La ilaha illallah, Muhammadar Rasulullah

11. Mantra Penunduk Buaya
Hai si jambu rakai
Sambutlah
Pekiriman putri
Runduk di gunung
Ledang
Embacang masak sebiji bulat
Penyikat tujuh penyikat
Pengarang tujuh pengarang
Diorak dikembang jangan
Kalau kau sambut
Dua hari jalan ketiga
Ke darat kau dapat makan
Ke laut kau dapat aku
Aku tau asal kau jadi
Tanah liat asal kau jadi
Tulang buku tebu asal kau jadi
Darah kau gila, dada kau upih

12. Mantra Penunduk Hantu Laut
Hai hai, anak datuk laut
Nyalah engkau, pergilah
Jikalau engkau tidak pergi
Aku pukul dengan ijuk tunggal
Dengan ijuk pusaka
Aku sekal kepalamu dengan sengkalan
Aku tau asalmu jadi
Dari kun fayakun
Berkat kalimat laihaillallah
Muhammadarrasulullah
Pua-pua adanya

13. Mantra Penahan Kulit
Kejang aku kejang rungkup
Kejang tunjang tengah laman
Kebal aku kebal tutup
Terkucap kulit tak berjalan
Terkunci terkancing tak mara

Sumber: Pengertian dan contoh Mantra

Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Era Globalisasi

Dalam menghadapi era global saat ini, tampaknya kita harus berbenah untuk menghadapi berbagai fenomena yang terjadi. Tujuan pembelajaran bahasa yang mengarah pada penggunaan bahasa perlu mendapat pencermatan kita. Saat ini perhatian para guru bahasa Indonesia tertuju pada upaya menerampilkan siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia. Pertanyaan kritis untuk kondisi seperti itu adalah apakah kita akan berhenti melakukan upaya dalam pembelajaran bahasa manakalah para siswa terampil menggunakan bahasa.

Pada era global diperlukan pikiran-pikiran kritis dan kreatif. Kemampuan berpikir tersebut perlu mendapat perhatian para pendidik, termasuk guru bahasa Indonesia. Untuk itu, pembelajaran bahasa Indonesia saat ini tidak sekadar mencapai keterampilan berbahasa Indonesia, tetapi juga mengarah pada peningkatan kemampuan berpikir tersebut. Dengan kata lain, sudah saatnya kita bertanya diri apa yang bisa kita berikan untuk menjadikan siswa berpikir kritis dan kreatif melalui pembelajaran bahasa Indonesia.

Berpikir kritis merupakan salah satu kegiatan manusia yang saat ini sangat diperlukan untuk mengembangkan berbagai segi kehidupan, baik sosial, budaya, maupun teknologi. Alvino (dalam Cotton,1991) menyatakan bahwa, “berpikir kritis adalah proses menentukan kebenaran, ketepatan, atau penilaian terhadap sesuatu yang ditandai dengan mencari alasan dan alternatif, dan mengubah pandangan seseorang berdasarkan bukti”. Scriven & Paul (dalam Cotton,1991; Piaw, 2004:66) memberikan batasan terhadap berpikir kritis sebagai salah satu model berpikir tentang suatu subjek, isi, atau masalah – yang digunakan oleh seseorang untuk meningkatkan kualitas berpikirnya melalui penggunaan struktur berpikir secara cekatan dan menentukan standar intelektualnya. Kedua batasan tersebut memunculkan pemahaman bahwa berpikir kritis terkait dengan logika. Lebih lanjut Alvino menyatakan bahwa berpikir kritis disebut juga berpikir logis dan berpikir analitis.

Alvino membatasi berpikir kreatif sebagai cara melihat dan melakukan sesuatu yang baru yang ditandai dengan kelancaran (menghasilkan banyak gagasan), kelenturan (mengubah pandangan secara mudah), keaslian (memiliki kebaruan), dan elaborasi (membangun berbagai gagasan). Facione (1998) menyatakan bahwa berpikir kreatif atau berpikir inovatif adalah sejenis berpikir yang menimbulkan wawasan baru, pendekatan baru, perspektif yang segar, yang semuanya merupakan cara-cara baru untuk memahami dan menyusun sesuatu. Secara singkat Smalling (dalam Cotton,1991) memberikan batasan bahwa creative thinking is the ability to invent original ideas for accomplishing goals.

Kedua jenis berpikir tersebut sangat tepat untuk mendedah pembelajaran bahasa Indonesia saat ini. Mari kita merenung: sudahkah kita mengarahkan pembelajaran bahasa Indonesia untuk menjadikan siswa mampu berpikir kritis dan kreatif sehingga mereka dapat menghadapi berbagai tantangan dalam era global saat ini; bagaimana caranya sehingga pembelajaran bahasa Indonesia mampu menggerakkan pikiran kritis dan kreatif siswa.

sumber: Esten, Mursai. 2010. “Bahasa dan Sastra Sebagai Identitas Bangsa Dalam Proses Globalisasi”.

Peranan Bahasa Indonesia di era globalisasi

Jangan Remehkan Pelajaran Bahasa Indonesia!

sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia-5789b54bd17a611f05c18484

Selamat berjumpa lagi. Saya setuju saat membaca tulisan Tje Lee Goek

“Saat membimbing mahasiswa menulis skripsi atau tugas akhir yang kerap saya temui masalahnya bukan pada pengumpulan dan pengolahan data serta perhitungan matematis, melainkan pada cara mengungkapkan secara tertulis dan lisan apa yang mereka sudah kerjakan di lapangan, studio, dan laboratorium. Bahasa Indonesia lisan dan tulisannya ‘kacau’ karena tak sesuai kaidah dan tidak mudah dipahami.

Hal serupa juga masih terjadi pada mahasiswa tingkat Doktoral (Strata 3). Saya berlatar belakang ilmu teknik pernah merasakan hal itu. Saat ‘kolokium’ rekan-rekan satu angkatan diharuskan membaca buku-buku teori bahasa Indonesia yang sempat bikin ciut hati karena terdeteksi tata bahasa Indonesia penulisan makalah yang ‘kacau’. Heu heu heu.. Bahasa Indonesia tetap penting dan layak dijadikan kriteria utama penilaian di antara beragam disiplin ilmu.

Saat saya mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia, juga tidak sedikit dari mahasiswa semester 3 belum mengerti bagaimana membedakan artikel dengan berita. Sungguh memprihatinkan. Mereka juga belum mengerti bagaimana merangkai kalimat dengan baik. Mereka terbiasa copy paste dari artikel yang diambil melalui Google.

Kesimpulan:

Jangan sepelekan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tanpa penguasaan Bahasa Indonesia Anda tidak bisa melewati ‘jembatan’ suatu ilmu ke ilmu lainnya. Lebih dari itu, Anda tidak bisa membaginya ke ‘Muara Segala Ilmu’, yakni KEHIDUPAN. Kalau sudah begitu, untuk apa jadi pinter?

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pebrianov/bu-jangan-remehkan-pelajaran-bahasa-indonesia_5789b43d947e611d048b457c

Model Pembelajaran Inquiry

Inquiry berarti menemukan yaitu model pembelajaran penemuan. Pembelajaran berdasarkan inquiry merupakan seni penciptaan situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi-situasi ini siswa berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam, mengajukan penjelasan-penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan melakukan pengujian untuk menunjang atau menentang teori-teori mereka, menganalisis data, menarik kesimpulan dari data eksperimen, merancang dan membangun model, atau setiap kontribusi dari kegiatan tersebut di atas.

Sund, seperti yang dikutip oleh Suryosubroto dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa, Inquiry merupakan perluasan proses discovery, yang digunakan lebih mendalam,  inkuiry yang dalam bahasa InggrisInquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi.

Gulo, (2005) menyatakan bahwa, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah :

  1. Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
  2. Keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
  3. Mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.

Kondisi Umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa adalah :

  1. Aspek sosial di kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi.
  2. Inkuiri berfokus pada hipotesis
  3. Penggunaan fakta sebagai evidensi (informasi, fakta )

Untuk menciptakan kondisi seperti itu, peranan guru adalah sebagai berikut:

  1. Motivator, memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berfikir.
  2. Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan
  3. Penanya , menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat
  4. Administrator, bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan kelas
  5. Pengarah, memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan
  6. Manajer, mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas
  7. Rewarder, memberikan penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.

Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah kedalam waktu yang relative singkat, Hasil penelitian Schlenker dalam joice dan weil (1992) menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berfikir kreatif dan siswa menjadi trampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi.

Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Inquiry

Strategi pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2009). Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.

Menurut Sanjaya (2009) bahwa strategi pembelajaran inquiry, memiliki beberapa ciri utama, yaitu:

  1. Strategi Inquiry menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, akan tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
  2. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Dalam strategi pembelajaran inquiry, guru bukan sebagai sumber belajar tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
  3. Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis.

Strategi Pembelajaran Inkuri efektif apabila :

  1. Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
  2. Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi,akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
  3. Jika proses pembelajaran berangkat dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
  4. Jika akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemamuan dan kemampuan berpikir.
  5. Jika siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
  6. Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.

Prinsip–prinsip Penggunaan Inquiri

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam penggunaan inquiri menurut Sanjaya (2009).

  1. Berorientasi pada pengembangan intelektual

Tujuan utama dari strategi inquiri adalah pengembangan kemampuan berfikir. Dengan demikian , strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunkan strategi inquiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan.

  1. Prinsip Interaksi

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.

  1. Prinsip Bertanya

Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan model inquiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berfikir.

  1. Prinsip Belajar untuk Berfikir

Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir (learning how to think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.

  1. Prinsip Keterbukaan

Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.

Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri

Gulo (2005) menyatakan bahwa, inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan keterampilan.

Secara umum proses pembelajaran SPI dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Orientasi

Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:

  1. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
  2. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan
  3. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
  1. Merumuskan masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

  1. Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

  1. Mengumpulkan data

Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.

  1. Menguji hipotesis

Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

  1. Merumuskan kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

Langkah – langkah menerapkan model pembelajaran inquiry didalam kelas :

  1. Membentuk kelompok-kelompok inkuiri. Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan rentang intelektal dan keterampilan-keterampilan social
  2. Memperkenalkan topik-topik inkuiri kepada semua kelompok. Tiap kelompok diharapkan memahami dan berminat mempelajarinya.
  3. Membentuk posisi tentang kebijakan yang bertalian dengan topik, yakni pernyataan apa yang harus dikerjakan. Mungkin terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan terhadap masalah pokok.
  4. Merumuskan semua istilah yang terkandung di dalam proposisi kebijakan.
  5. Menyelidiki validitas logis dan konsisten internal pada proposisi dan unsur-unsur penunjangnya.
  6. Mengumpulkan evidensi (bukti) untuk menunjang unsur-unsur proposes
  7. Menganalisis solusi solusi yang diusulkan dan mencari posisi kelompok
  8. Menilai proses kelompok.

Kemudian pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya.

Ketiga jenis pendekatan inkuiri tersebut adalah:

  1. Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach)

Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.

Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran matematika. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafoldingyang diperlukan oleh siswa.

  1. Inkuiri Bebas (free inquiry approach).

Pada umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.

Selama proses ini, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan metode ini adalah adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah yang diselidiki.

Sedangkan belajar dengan metode ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

  1. Waktu yang diperlukan untuk menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu yang sudah ditetapkan dalam kurikulum,
  2. Karena diberi kebebasan untuk menentukan sendiri permasalahan yang diselidiki, ada kemungkinan topik yang diplih oleh siswa di luar konteks yang ada dalam kurikulum,
  3. Ada kemungkinan setiap kelompok atau individual mempunyai topik berbeda, sehingga guru akan membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh siswa,
  4. Karena topik yang diselidiki antara kelompok atau individual berbeda, ada kemungkinan kelompok atau individual lainnya kurang memahami topik yang diselidiki oleh kelompok atau individual tertentu, sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
  5. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan (modified free inquiry approach)

Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar dengan pendekatan ini menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.

Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.

Keunggulan dan Kelemahan SPI

  1. Keunggulan :
  2. SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif kognitif,afektif dan psikomotor secara seimbang,sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
  3. SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
  4. SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan.
  5. SPI dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata.Artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
  1. Kelemahan
  2. SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran,maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa
  3. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dalam kebiasaan siswa dalam belajar
  4. Kadang kadang dalam implementasimnya,memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
  5. Selama ketentuan keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran,maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.

Pembelajaran dengan Metode Inkuiri Suchman

Berdasarkan uraian pembelajaran inkuiri umum, kita dapat melihat bahwa waktu dan sumber yang tersedia merupakan permasalahan dalam pembelajaran. Menanggapi permasalahan ini, Richard Suchman mengembangkan suatu pembelajaran inkuiri yang telah dimodifikasi. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suchman tentang model inkuiri ini menunjukkan bahwa keterampilan inkuiri siswa meningkat dan motivasi belajarnya juga meningkat.

Dahlan dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa, Suchman berkeyakinan bahwa siswa akan menyadari tentang  proses penyelidikannya dan mereka dapat diajarkan tentang prosedur ilmiah secara langsung. Selajutnya, Suchman berpendapat tentang pentingnya membawa siswa pada sikap bahwa semua pengetahuan bersifat tentative. Joyce dalam Trianto (2009) menyatakan, bahwa teori Suchman dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Mengajak siswa membayangkan seakan-akan dalam kondisi yang sebenarnya
  2. Mengidentifikasi komponen-komponen yang berada di sekeliling kondisi tersebut.
  3. Merumuskan permasalahan dan membuat hipotesis pada kondisi tersebut.
  4. Memperoleh data dari kondisi tersebut dengan membuat pertanyaan dan jawabannya  “ya’ atau “tidak”.
  5. Membuat kesimpulan dari data-data yang diperolehnya.

Pembelajaran inkuiri dengan metode Suchman menggunakan pertanyaan-pertanyaan  yang diajukan pada siswa sebagai alternative untuk prosedur pengumpulan data.

Inkuiri Suchman seperti yang dikutip oleh Kardi dalam Trianto(2009) mempunyai kelebihan, yaitu :

  1. Penelitian dapat diselesaikan dalam waktu satu periode pertemuan. Waktu yang singkat ini memungkinkan siswa dapat mengalami siklus inkuiri dengan cepat, dan pelatihan mereka akan terampil melakukan inkuiri.
  2. Lebih efektif dalam semua bidang di dalam kurikulum.

Perbedaan utama antar inkuiri Suchman dengan Inkuiri umum terletak pada proses pengumpulan data.

Suchman mengembangkan suatu motode penemuan baru yang menuntun siswa mengumpulkan data melalui bertanya, maka dari itu model pembelajaran inkuiri menurut Schuman harus memperhatikan :

  1. Struktur Sosial Pembelajaran. Suasana kelas yang nyaman merupakan hal yang penting dalam pembelajaran inkuiri Suchman karena pertanyaan-pertanyaan harus berasal dari siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Kerja sama guru dengan siswa, siswa dengan siswa diperlukan juga adanya dorongan secara aktif dari guru dan teman. Dua atau lebih siswa yang bekerja sama dalam berfikir dan bertanya, akan lebih baik hasilnya jika dibanding bila siswa bekerja sendiri.
  2. Peran Guru. Pembelajaran inkuiri Suchman, peran guru memonitor pertanyaan siswa untuk mencegah agar proses inkuiri, tidak sama dengan permainan tebakan. Hal ini memerlukan dua aturan penting, yaitu : Pertanyaan harus dapat dijawab “ya” atau “tidak” dan harus diucapkan dengan suatu cara siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan melakukan pengamatan; Pertanyaan harus disusun sedemikian rupa sehingga tidak mengakibatkan guru memberikan jawaban pertanyaan tersebut, tetapi mengarahkan siswa untuk menemukan jawabannya sendiri.
  3. Sintaks Pembelajaran Inkuiri. Dalam upaya menanamkan konsep , misalnya konsep IPA Biologi pokok bahasan saling ketergantungan pada siswa, tidak cukup hanya  sekedar ceramah. Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk tahu dan terlibat secara aktif dalam menemukan konsep-konsep dari fakta-fakta yang dilihat dari lingkungan dengan bimbingan guru.

Pada penelitian ini tahapan pembelajaran yang digunakan mengadaptasi dari tahapan pembelajaran inkuiri yang dikemukakan oleh Eggen & Kauchak dalam Trianto (2009).  Adapun tahapan pembelajaran inkuiri sebagai berikut:

Tahap Pembejaran Inkuiri

Fase Perilaku Guru
1.    Menyajikan pertanyaan atau masalah Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok.
2.    Membuat hipotesis Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan  dengan permasalahan  dan memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.
3.    Merancang percobaan Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan . Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan
4.    Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan
5.    Megumpulkan dan menganilisis data Guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.
6.    Membuat kesimpulan Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.

Kesimpulan

Gulo dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar , mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri. Namun dalam penerapannya, pembelajaran inkuiri ini memiliki kelemahan seperti adanya kesulitan dalam mengontrol siswa, ketidaksesuaian kebiasaan siswa dalam belajar, kadang memerlukan waktu yang panjang dalam pengimplementasiannya, dan sulitnya dalam implementasi yang dilakukan oleh guru bila keberhasilan belajar bergantung pada siswa.

Langkah-langkah pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, merumuskan kesimpulan.

Sumber: : http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/model-pembelajaran-inquiry.html#ixzz4CPIU671l