BENTUK BAKU DAN TIDAK BAKU

Bentuk baku atau kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia (KBBI). Kata baku umumnya dipakai pada situasi formal atau resmi.

Kita harus bisa menentukan mana bentuk yang baku dan mana bentuk yang nonbaku, sehingga di dalam tuturan resmi, hanya bentuk baku itulah yang digunakan. Beberapa bentuk kembar disajikan sebagai berikut.

  1. analisa dan analisis

Dewasa ini masih tetap dipertanyakan orang tentang bentuk kata yang berbunyi akhir –a atau –isseperti analisa dan analisis. Sampai sekarang ini masih tetap kita lihat dua bentuk itu dipakai orang secara bergantian. Ada orang yang menggunakan bentuk analisa, tetapi ada juga orang yang menggunakan analisis.

Secara historis, kata itu dahulu diserap dari bahasa Belanda: analyse. Karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat kata yang berakhir dengan bunyi /e/,  maka /e/ pada akhir kata itu diganti dengan bunyi /a/, lalu kedua patah kata itu dijadikan analisa.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, sebuah lembaga di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Depetemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang “mengurus” bahasa dan pekerjaannya antara lain membentuk istilah, menetapkan : 1) sebaiknya dalam membentuk istilah yang mengambil dari bahasa asing, kita mendahulukan bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama dalam pendidikan di Indonesia; 2) sebaiknya dalam mengindonesiakan kata asing (bila tidak ditemukan padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah) diusahakan agar ejaannya dekat dengan ejaan bahasa asalnya, artinya, yang diganti hanyalah yang perlu saja.  Pada saat ini ditetapkan bahwa yang digunakan sebagai acuan adalah bahasa bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris terdapat bentuk analysis.  Oleh karena itu, bentuk analysis-lah yang diserap dan dindonesiakan menjadi analisis.

Alasan mengacu kepada bahasa Inggris ini didasarkan kepada pendirian bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang sifatnya internasional dan dekat kepada generasi seakarang maupun generasi yang akan datang. Bahasa Belanda tidak lagi dikenal oleh generasi muda dan agar pembentukan kata-kata Indonesia nanti tidak menjadi bersifat mendua, lebih baik kita mengacu kepada satu bahasa saja, yaitu bahasa Inggris. Pendirian ini memang tidak selalu bertaat asas secara ketat sebab dalam kenyataannya banyak kata yang berasal dari bahasa Belanda tidak diubah lagi karena kata-kata itu sudah melembaga dalam bahasa Indonesia. Hanya sebagian kecil saja yang diubah.

Mengubah sesuatu yang sudah melembaga dan sudah sangat biasa digunakan oleh pemakai bahasa memang tidak mudah. Buktinya dapat kita lihat pada kedua patah kata yang sudah kita bicarakan itu. Bentukanalisis sudah tinggi kekerapan pemakaiannya di kalangan perguruan tinggi, tetapi di luar itu masih lebih banyak digunakan bentuk analisa. Jika bentuk analisis yang kita gunakan sebagai bentuk dasarnya, maka kata bentukannya dengan imbuhan bahasa Indonesia (awalan, akhiran) harus pula sejalan dengan bentuk dasar itu. Jadi, menganalisis, dianalisis, penganalisisan, bukan menganalisa, dianalisa, penganalisaan. Penggunaan bentuk baru yang sudah ditetapkan ini tentu perlu dipatuhi dan melalui pembiasaan, lama kelamaan kita akan terbiasa menggunakan bentuk yang baru itu.

  1. anarkis dan anakistis

Dalam berbahasa, kata anarkis tampaknya lebih banyak digunakan daripada anarkistis. Kedua kata itu sering digunakan dalam pengertian yang tertukar. Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut.

  1. Para demonstran diharapkan tidak melakukan tindakan yang anarkis.

Kata anarkis pada kalimat itu tidak tepat. Untuk mengetahui hal itu, kita perlu memahami pengertian kataanarkis.

Kata anarkis (anarchist) berkelas nomina dan bermakna’penganjur (penganut) paham anarkisme’ atau’ orang yang melakukan tindakan anarki’. Dari pengertian tersebut ternyata anarkis bermakna ‘pelaku’, bukan ‘sifat anarki’. Padahal, kata yang diperlukan dalam kalimat tersebut adalah kata sifat untuk melambangkan konsep ‘bersifat anarki’. Dalam hal ini, kata yang menyatakan ‘sifat anarki’ adalah anarkistis, bukan anarkis. Kata anarkis sejalan dengan linguis ‘ahli bahasa’ atau pianis ‘pemain piano’, sedangkan anarkistis sejalan dengan optimistis ‘bersifat optimis’ dan pesimistis ‘bersifat pesimis’ Dengan demikian, kata anarkis pada kalimat tersebut lebih baik diganti dengan anarkistis sehingga kalimatnya menjadi sebagai berikut.

1a. Para demonstran diharapkan tidak melakukan tindakan yang anarkistis.

  1. antri dan antre

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), kata yang baku adalah antre (dengan e) yang berarti ‘berdiri berderet-deret menunggu giliran. Penulisan antri’ (dengan i) adalah bentuk yang tidak baku.

  1. anutan dan panutan

Akhiran –an yang melekat pada kata kerja mengandung arti antara lain, ‘hasil atau ‘yang di’, seperti tampak pada kata tulisan ‘hasil menulis’ atau ‘yang ditulis’; karangan ‘hasil mengarang’ atau ‘yang dikarang’;rangkuman ‘hasil merangkum’ atau ‘yang dirangkum’; simpulan ‘hasil menyimpulkan’ atau ‘yang disimpulkan’. Kata anutan, bukan panutan sebab berasal dari kata anut yang mendapat akhiran –an, yang berarti ‘hasil menganut’ atau ‘yang dianut’. Dengan demikian, bentukan panutan merupakan bentukan yang salah kaprah.

  1. ahli dan akhli

            Kata ahli merupakan serapan dari kata bahasa Arab. Kata akhli tidak baku karena mengandung konsonan k. Padahal dalam kata sumbernya tidak berhuruf konsonan k. Kata ahli berrati ‘orang yang mahir’ atau paham sekali dalam suatu ilmu.

  1. akta dan akte

Kata akta merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu act. Penyerapannya dengan cara mengganti huruf  konsonan c dengan huruf konsonan k dan membubuhkan huruf vokal a pada akhir kata itu sehingga terbentuklah akta. Hal itu mengingatkan kita pada proses pembakuan sejumlah kata yang setipe, misalnya kata legenda sebagai kata baku merupakan serapan dari kata legend (Inggris), kata norma sebagai kata baku merupakan serapan dari kata norm (Inggris), sketsa sebagai kata baku merupakan serapan dari katascats (Inggris).

Kita ketahui bahwa kata akte merupakan serapan dari kata bahasa Belanda, yaitu akte. Dalam hal ini, yang dikembangkan pemakaiannya adalah akta, seperti halnya kata legenda. Padahal, dalam bahasa Belanda ditemukan kata legende. Atas dasar pertimbangan itu, diketahui bahwa kata yang baku ialah akta, sedangkan kata yang tidak baku adalah akte. Kata akta berrati ‘surat tanda bukti berisi pernyataan resmi yang dibuat menurut peraturan yang berlaku’.

  1. cedera dan cidera

Bentuk cedera merupakan kata bahasa Indonesia dan pemakaiannya sangat lazim. Oleh karena itu, kata yang baku ialah cedera. Kata cidera termasuk kata yang tidak baku karena tingkat kelazimannya di bawah katacedera. Kata cedera berarti ‘cacat sedikit’.

  1. colok pada menyolok dan mencolok

Fonem /c/ pada kata dasar banyak yang menjadi luluh apabila mendapat awalan meN-, seperti pada bentuk menyolok. Padahal, fonem ini tidak luluh apabila mendapat awalan meN-, seperti kita juga tidak pernah mengatakan menyukur atau menyari, tetapi mencukur atau mencari.

Dalam bahasa lisan yang tidak resmi memang sering digunakan bentuk-bentuk seperti itu. Akan tetapi, dalam ragam tulis baku, bentuk bentuk itu mencolok,mencuci, mencicil.

  1. darma dan dharma

Kata darma merupakan kata yang diserap dari bahasa Sansekerta dharma. Kata ini disesuaikan ejaannya dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, bentuk yang baku ialah darma. Sebaliknya, kata dharma tidak baku karena ejaannya belum sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Kata darmamengandung arti ’kewajiban’, ‘tugas hidup’, dan ‘kebajikan’.

  1. darmabakti, darma bakti, dan dharma bhakti

Kebakuan dan ketidakbakuan pasangan kata itu terletak pada ejaannya. Karena merupakan sebuah kata, bentuk darma harus digabungkan dengan bentuk bakti. Oleh krena itu, kata yang baku ialah darmabakti.Sedikitnya ada dua alasan yang menyebabkan bentuk dharma bhakti bukan merupakan bentuk baku, yaitu (1) ejaannya belum benar dan (2) bentuk dharma dipisahkan dengan bentuk bhakti. Kata darmabakti mengandung arti ‘perbuatan untuk berbakti (kepada negara, agama)’.

Dengan beranalogi pada  hal di atas, dapat diketahui bahwa darmasiswa, darmawisata, merupakan kata baku, sedangkan darma siswa, darma wisata ialah kata tidak baku. Kata darmasiswa mengandung arti ‘uang yang disediakan untuk mebiayai pelajar atau mahasiswa’. Kata darmawisata mengandung arti ‘perjalanan singkat dengan tujuan bersenang-senang’.

  1. daya guna dan dayaguna

Bentuk daya guna merupakan kata gabung. Oleh karena itu, penulisan bentuk daya harus dipisahkan dengan bentuk guna. Kata itu setipe dengan kata-kata hasil guna, tanda tangan, tepuk tangan, tumpang tindih,dan tanggung jawab (dalam arti sebagai gabungan yang unsur-unsurnya harus dipisahkan penulisannya). Dengan demikian, kata yang baku ialah daya guna. Jika dua bentuk itu mendapatkan awalan dan akhiran, maka penulisannya digabungkan. Misalnya mendayagunakan, didayagunakan. Kata dayaguna (digabungkan) merupakan kata yang tidak baku. Kata daya guna mengandung arti ‘kemampuan yang mendatangkan hasil dan manfaat’, ‘efisien’, dan ‘tepat guna’.

  1. deskriptip dan deskriptif

Anda mungkin bertanya? Manakah bentuk yang betul atau bentuk yang baku di antara kedua bentuk di atas. Bentuk dengan akhir /p/ atau /f/? Mari kita teliti bunyi ketentuan yang terdapat dalam  buku Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan.

ive, ief menjadi if

descriptive,                  descriptief        à deskriptif

demonstrative,             demonstratief  à demonstratif

maksudnya, kata dari bahasa Inggris yang berakhir –ive, yang semakna dan mirip bentuknya dengan kata bahasa Belanda yang berakhir dengan –ief, dalam bahasa Indonesia menjadi kata dengan akhir –if. Jadi, v dan f yang dilafalkan dengan /f/. Itu ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf f. Jangan dijadikan atau diganti dengan p. Bentuk-bentuk aktip, positip, demonstratip, produktip, eksekutip, legislatip bukanlah bentuk-bentuk yang baku. Semua kata yang sudah disebutkan itu haruslah berakhir dengan –if, bukan –ip. Jadi, yang baku ialah aktif, positif, demonstratif, produktif, eksekutif, legislatif.

  1. dukacita dan duka cita

Kata dukacita merupakan sebuah kata. Oleh karena merupakan sebuah kata, penulisan bentuk dukaharus digabungkan dengan bentuk cita. Dengan demikian, kata yang baku ialah dukacita. Bentuk duka yang dipisahkan penulisannya dengan bentuk cita merupakan bentuk yang tidak baku. Kata dukacita mengandung arti ‘kesedihan’ atau ‘kesusahan’

  1. efektif dan efektip

Kata efektif merupakan serapan dari kata bahasa Belanda effectief atau dari kata bahasa Inggris effective.Di samping perubahan yang lain, yang perlu diperhatikan ialah bahwa bunyi -ief atau -ive pada kata asing itu menjadi –if setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata yang baku ialah efektif,sedangkan  kata efektip merupakan kata yang tidak baku. Kata efektif mengandung arti ‘ada efeknya’, manjur tau mujarab, dan ‘berhasil guna’.

  1. eksklusif dan exclusif

Kata eksklusif merupakan serapan dari kata kata bahasa Inggris exclusive. Penyerapan dengan cara mengganti huruf konsonan x dengan gabungan huruf ks, huruf konsona c dengan huruf konsonan k, dan mengganti bunyi ive dengan bunyi if. Karena ejaannya sudah benar, bentuk eksklusif merupakan kata baku, sedangkan exclusif merupakan kata yang tidak baku karena ejaannya masih salah. Kata eksklisif berarti ‘terpisah dari yang lain’ atau ‘tidak termasuk’.

  1. ekspor dan eksport

Kata ekspor merupakan serapan dari kata bahasa Inggris export. Penyerapannya dengan cara mengganti huruf konsonan x dengan gabunagn huruf konsonan ks dan menghilangkan konsonan t pada akhir kata itu. Benrtuk ekspor merupakan kata baku karena ejaannya sudah benar. Oleh karena pada kata eksportmasih  mengandung huruf konsonan t, maka kata eksport tidak baku. Kata ekspor berarti ‘pengiriman barang ke luar negeri’.

  1. eksporter dan eksportir

Kata eksporter merupakan serapan dari kata exporter (Inggris). Penyerapannya dengan cara mengganti huruf konsonan x dengan gabungan huruf ks. Oleh karena itu, bentuk ekporter merupakan kata baku. Kataeksportir merupakan serapan dari kata exporteur (Belanda). Kita ketahui bahwa kata yang dikembangkan pemakaiannya ialah kata yang diserap dari bahasa Inggris, yaitu exporter. Dengan demikian, kata yang baku ialah eksporter, sedangkan kata  eksportir merupakan kata yang tidak baku. Kata eksporter mengandung arti ‘pengekspor’.

  1. ekstrem dan ekstrim

Kata ekstrem merupakan serapan dari kata extreem (Belanda) atau serapan dari kata extreme (inggris). Di samping perubahan yang lain (misalnya huruf konsonan x berubah menjadi bagungan huruf konsonan ks), yang perlu diperhatikan bahwa deret huruf vokan ee atau vokal e yang mengikuti huruf konsonan r tetap menjadi e (bukan i) setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata yang baku ialahekstrem, sedangkan ekstrim merupakan kata yang tidak baku. Kata ekstrem mengandung arti ‘fanatik’, atau ‘sangat keras dan teguh’.

  1. hipotesa dan hipotesis

Secara historis, kata-kata itu dahulu diserap dari bahasa Belanda: hypothese. Karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat kata yang berakhir dengan bunyi /e/,  maka /e/ pada akhir kata itu diganti dengan bunyi /a/, lalu kedua patah kata itu dijadikan hipotesa.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, sebuah lembaga di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Depetemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang “mengurus” bahasa dan pekerjaannya antara lain membentuk istilah, menetapkan : 1) sebaiknya dalam membentuk istilah yang mengambil dari bahasa asing, kita mendahulukan bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama dalam pendidikan di Indonesia; 2) sebaiknya dalam mengindonesiakan kata asing (bila tidak ditemukan padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah) diusahakan agar ejaannya dekat dengan ejaan bahasa asalnya, artinya, yang diganti hanyalah yang perlu saja.  Demikian juga halnya dengan kata hypothesis. Kata itu lalu diindonesiakan menjadi hipotesis.

Alasan mengacu kepada bahasa Inggris ini didasarkan kepada pendirian bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang sifatnya internasional dan dekat kepada generasi seakarang maupun generasi yang akan datang. Bahasa Belanda tidak lagi dikenal oleh generasi muda dan agar pembentukan kata-kata Indonesia nanti tidak menjadi bersifat mendua, lebih baik kita mengacu kepada satu bahasa saja, yaitu bahasa Inggris. Pendirian ini memang tidak selalu bertaat asas secara ketat sebab dalam kenyataannya banyak kata yang berasal dari bahasa Belanda tidak diubah lagi karena kata-kata itu sudah melembaga dalam bahasa Indonesia. Hanya sebagian kecil saja yang diubah.

Mengubah sesuatu yang sudah melembaga dan sudah sangat biasa digunakan oleh pemakai bahasa memang tidak mudah. Buktinya dapat kita lihat pada kedua patah kata yang sudah kita bicarakan itu. Bentukhipotesis dan analisis sudah tinggi kekerapan pemakaiannya di kalangan perguruan tinggi, tetapi di luar itu masih lebih banyak digunakan bentuk hipotesa dan analisa. Jika bentuk analisis yang kita gunakan sebagai bentuk dasarnya, maka kata bentukannya dengan imbuhan bahasa Indonesia (awalan, akhiran) harus pula sejalan dengan bentuk dasar itu. Jadi, menganalisis, dianalisis, penganalisisan, bukan menganalisa, dianalisa, penganalisaan. Penggunaan bentuk baru yang sudah ditetapkan ini tentu perlu dipatuhi dan melalui pembiasaan, lama kelamaan kita akan terbiasa menggunakan bentuk yang baru itu.

  1. izin dan ijin

Di dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari kita sering menemukan tulisan kata tertrtentu secara berbeda. Ambillah contoh kata izin I dan ijin. Kita tentu bertanya tulisan man yang baku di atara keduanya itu. Untuk menjawab pertanyaanitu, kita harus kembali pada aturan pengindonesiaan kata asing.

Di dalam Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dinyatakan bahwa ejaan kata yang erasal dari bahasa asing hanya diubah seperlunya agar ejaannya dalam bahasa Indonesia masih dapat dibandingkan dengan ejaan bahasa asalnya. Kata itu di dalam bahasa asalnya, yaitu Arab dituliss dengan huruf <zal>   yang diindonesiakan menjadi <z> . Dengan demikian, penulisan yang benar adalah izinbukan ijin.

  1. jadual dan jadwal

Ada orang beranggapan bahwa yang baku adalah kata jadual karena mereka beranalogi pada kualitas atau pada kuitansi. Jalan pikiran seperti itu sepintas lalu benar, tetapi sayang sekali analogi itu tidak tepat. Katakualitas dan kuitansi berasal dari bahasa Inggris yang memang menggunakan u bukan w, yakni quality danquitance, sedangkan jadwal tidak dapat disejajarkan dengan kedua kata itu karena tidak seasal. Jadwal berasal dari bahasa Arab. Perhatikan pemakaian yang salah berikut ini.

Bentuk salah

  1. Sesuai dengan jadual, perkuliahan semester ganjil akan dimulai tanggal 10 Oktober 1998.
  2. Bersama ini kami kirimkan jadual kuliah semester ganjil tahun akademik 1998/1999.

Bentuk Baku

  1. Sesuai dengan jadwal, perkuliahan semester ganjil akan dimulai tanggal 10 Oktober 1998.
  2. Bersama ini kami kirimkan jadwal kuliah semester ganjil tahun akademik 1998/1999.
  1. komoditas dan komoditi

Kata komoditas merupakan serapan dari bahasa Inggris comodity. Penyerapannya dengan mengganti huruf konsonan c dengan huruf konsonan k, menyederhanakan gugus konsonan mm memjadi m, mengubah bunyi –ty menjadi tas, sehingga terbentuklah kata komoditas. Kata itu dapat mengingatkan kita pada beberapa kata yang setipe, misalnya universitas merupakan serapan dari kata university, kapasitas merupakan serapan dari kata kapacity, dan loyalitas merupakan serapan dari kata loyality. Oleh karena itu, kata yang baku ialahkomoditas, sedangkan kata yang tidak baku ialah komoditi. Kata komoditas berarti ‘barang dagangan utama’, ‘benda niaga’.

  1. kompleks dan komplek

Kata kompleks merupakan serapan dari kata bahasa Belanda complex atau dari bahasa Inggris complex.Penyerapannya dengan cara mengganti konsonan c dengan k dan konsonan x dengan gabungan huruf konsonan ks, sehingga terbentuklah kompleks. Oleh karena itu, kata yang baku ialah kompleks. Kata kompleksberarti ‘ mengandung beberapa unsur yang pelik, rumit, sulit, dan saling berhubungan’.

  1. konkret, kongkret, konkrit, dan kongkrit  

Kata konkret merupakan serapan dari bahasa Inggris concrete. Di samping perubahan konsonan cmenjadi k, yang perlu diperhatikan juga adalah  huruf konsonan n pada kata asing itu tetap n atau tidak menjading setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata yang baku ialah konkret. Kata koncret berati ‘nyata’, ‘benar’, dan ‘benar ada’.

  1. kontroversial dan kontraversial

Kata kontroversial merupakan serapan dari kata bahasa Inggris contovercial. Penyeranannya dengan mengganti huruf konsonan c dengan huruf huruf konsonan k, sehingga terbentuklah kata kontroversial. Dengan demikian, kata yang baku ialah kontroversial. Kata kontraversial merupakan kata yang tidak baku. Katakontroversial berarti ‘bersifat menimbulkan pertentangan’.

  1. kualitas dan kwalitas

Kata kualitas merupakan serapan dari kata bahasa Inggris quality. Penyerapan dengan cara mungubahqua menjadi kua dan –ty menjadi tas, sehingga terbentuklah kualitas. Oleh karena itu, bentuk yang baku ialahkualitas. Bentuk kwalitas ialah bentuk yang tidak baku. Kata kualitas berarti ’tingkat baik buruknya sesuatu’.

  1. linguis dan lingguis

Kata linguis merupakan serapan dari kata bahasa Belanda linguist atau dari bahasa Inggris linguist. Di samping penghilangan huruf konsonan t pada akhir kata itu, yang perlu diperhatikan ialah bahwa gusus huruf konsonan ngg tidak terkandung pada kata asing itu. Oleh karena itu, kata yang baku ialah linguis, sedangkan kata lingguis tidak baku. Kata linguis berarti ‘ahli ilmu bahasa’.

  1. linguistik dan lingguistik

Kata linguistik merupakan serapan dari kata bahasa Belanda linguistie atau dari kata bahasa Inggrislinguistic. Oleh karena itu, kata yang baku ialah linguistik, sedangkan lingguistik merupakan kata yang tidak baku. Kata linguistik berarti ‘ilmu tentang bahasa’ atau telaah bahasa secara ilmiah’.

  1. lokakarya dan loka karya

Kata lokakarya merupakan sebuah kata. Oleh karena itu, penulisan bentuk loka harus digabungkan dengan karya. Dengan demikian, kata yang baku ialah lokakarya. Karena penulisan bentuk loka dipisahkan dengan bentuk karya, kata loka karya tidak baku. Kata lokakarya berarti ‘pertemuan antarpara ahli untuk membahas suatu masalah dalam bidang keahliannya’, ‘sanggar kerja’.

  1. mancanegara dan manca negara

Bentuk mancanegara merupakan sebuah kata. Oleh sebab itu, bentuk manca harus digabungkan dengan bentuk negara. Dengan demikian, kata yang baku ialah mencanegara. Bentuk manca negara merupakan bentuk yang tidak baku karena ejaannya salah. Kata mencanegara berarti ‘negara asing’

  1. multibahasa dan multi bahasa

Satuan multi merupakan bentuk terikat. Oleh kerena bentuk multi merupakan bentuk terikat, maka penulisannya harus digabungkan dengan bentuk yang mengikutinya, yaitu bahasa. Dengan demikian multibahasa merupakan bentuk yang baku. Bentuk multi bahasa merupakan bentuk yang tidak baku karena penulisannya salah. Kata multibahasa berarti ‘mengandung lebih dari satu bahasa’ atau ‘mampu menggunakan lebih dari satu bahasa’.

  1. pascasarjana, pasca sarjana dan paskasarjana

Bentuk pasca- merupakan awalan yang artinya ialah ‘sesudah’. Ucapannya ialah /pasca/, bukan /paska/ karena diserap dari bahasa Sanskerta. Oleh karena itu kata yang baku ialah pascasarjana. Pascasarjan berarti ‘pengetahuan sesudah sarjana’.

  1. penatar dan petatar

            Penatar ialah ‘orang yang menatar’; kata tatar – menatar diserap dari bahasa daerah. Kata bahasa Inggrisnya up grading  yang dipadankan dengan penataran, yaitu kata kerjanya menatar. Petatar artinya ‘orang yang ditatar’. Bentuk ini beranalogi kepada bentuk yang sudah ada.

Dalam bahasa Indonesia dikenal bentuk penyuruh dan pesuruh. Penyuruh ialah ‘orang yang menyuruh’, sedangkan pesuruh ialah ‘orang yang disuruh’.Berdasarkan bentuk itulah dibentuk kata penatar dan petataryang berarti ‘orang yang menatar’dan ‘orang yang ditatar’. Dewasa ini dijumpai pula bentuk–bentuk yang beranalogi kepada bentuk-bentuk itu, yaitu penyuluh dan pesuluh. Penyuluh ialah ‘orang yang menyuluhi, sedangkan pesuluh ialah  ‘orang yang disuluhi’.

  1. perajin dan pengrajin

Kata dasar berfonem awal /r/ jika diberi awalan pe-, bentuk awalan itu tetap pe-, seperti pada kataperawat, peramal. Bila kata dasar berupa kata sifat diberi awalan pe- maka awalan pe- mengandung makna ‘orang yang sifatnya seperti yang disebutkan kata dasar itu’.; Misalnya, pemalas ‘orang yang sifatnya malas,pemarah ‘orang yang sifatnya suka marah’. Beranalogi kepada bentukan itu maka perajin ialah ‘orang yang sifatnya rajin, (walaupun kata ini jarang dipakai dalam tuturan).

Kata pengrajin tidak berarti ‘orang yang sifatnya rajin’, tetapi ‘orang yang mengerjakan pekerjaan industri rumah seperti membuat keranjang, membuat tikar, membuat sepatu, dan sebagainya.

  1. pimpinan dan pemimpin

Sekarang ini kata pemimpin dan pimpinan digunakan seolah-olah dengan fungsi yang sama . Misalnya dalam frase pimpinan proyek dan pemimpin proyek. Singkatan yang biasa digunakan di departemen dewasa ini ialah pimpro (pimpinan proyek). Yang ditanyakan sebagian orang ialah “Benarkah makna pimpinan proyek sama dengan pemimpin proyek?”

Mari kita bahas makna kedua bentukan itu dengan menentukan arti imbuhan awalan pem- dengan akhiran –an pada bentuk dasar pimpin. Kita tahu bahwa awalan pe-, pem, pen-, peng-, atau peny- seperti pada kata perawat, pembeli, penjual, penggali ialah 1) ‘orang yang meng-‘; dan 2) ‘alat untuk meng-‘. Jadi, perawat ‘orang yang merawat’, pembeli ‘orang yang membeli’, penggali ‘orang yang menggali’ atau alat untuk menggali. Berdasarkan analogi bentukan itu, kita dapat mengatakan bahwa pemimpin artinya ‘orang yang memimpin.

Akhiran –an pada bentuk dasar kata kerja seperti kata tulisan mempunyai arti ‘hasil menulis’ atau ‘yang ditulis’, karangan  ‘hasil mengarang’, atau ‘yang dikarang’.

Agar bahasa Indonesia yang kita gunakan dapat memberikan makna yang lebih tepat, sebaiknya kita membedakan kedua bentuk itu. Jadi, pemimpin ialah’ orang yang memimpin’, sedangkan pimpinan ialah ‘hasil kerja memimpin’. Dalam kalimat:

  1. Sudah dua tahun beliau memimpin partai itu.
  2. Pemimpin yang jujur sangat dibutuhkan bagi pembangunan bangsa dan negara.
  3. Karana pimpinannya yang baik, perusahaan itu maju.

Pimpinan proyek yang teratur dimungkinkan berkat rencana yang matang.

  1. pirsawan dan pemirsa

Sekarang ini kita dengar dua bentuk yang digunakan orang. Mana di antara kedua bentuk itu yang betul?

Kita menyerap akhiran darai bahasa sanskerta –wan dan –man. Mulanya dipakai pada ata-kata sepertihartawan , bangsawan, yang mengandung arti ‘yang memiliki’. Jadi, hartawan  berarti ‘yang memiliki harta’.

Dalam bahasa Indonesia, makna akhiran itu meluas. Dapat berarti ‘orang yang ahli tentang’ misalnya ilmuwan sastrawan; dapat berarti ‘orang yang pekerjaannya atau orang yang sering melakukan pekerjaan itu,misalnya wartawan. Umumnya bentuk dasar kata-kata yang berakhiran –wan itu ialah kata benda. Tetapi ada juga beberapa kata sifat seperti setiawan’ yang memiliki sifat setia, sukarelawan ‘yang memiliki sifat sukarela.

Kita kembali pada pertanyaan di atas. Bentuk dasarnya adalah pirsa yang dipungut dari bahasa Jawa dan kata itu adalah kata kerja. Bentuk aktifnya dalam bahasa Jawa mirsa (baca: mirso). Jika kata itu kita bentuk menurut aturan bahasa Indonesia, maka kata kerja bentuk aktifnya ialah memirsa yang artinya’ melihat serta memperhatikan’. Jadi, orang yang memirsa itu mengikuti dengan aktif dengan jiwanya apa yang dilihatnya, lebih besar perhatiannya daripada orang yang menonton.

Kalau kata kerjanya memirasa seperti keterangan di atas, maka orang yang memirsa ialah pemirsa, bukan pirsawan. Berdasarkan makna akhiran – wan seperti yang dijelaskan di atas tadi, maka pirsawan  dapat berarti ‘orang yang ahli pirsa) atau ‘yang memiliki pirsa’ (tidak mungkin). Dengan alasan itu, maka bentukpirsawan yang sering   digunakan orang itu bentuk yang kurang tepat.

  1. proklamsi dan proklamir

Kata diproklamasikan merupakan bentukan dari kata dasar proklamasi dan imbuhan di-kan. Kataprokalmasi merupakan serapan dari bahasa Belanda proclamtie atau dari bahasa Inggris proclamation. Katadiprokalmirkan merupakan bentukan dari kata dasar proklamir  dan imbuhan di-kan. Kata proklamir merupakan serapan dari kata bahasa Belanda poclameren yang berarti ‘mengumumkan’. Oleh karena proklamir sudah berkategori verba (kata kerja), maka pembubuhan imbuhan di–kan pada kata itu tidak tepat karena artinya‘dimengumumkan’ Bentuk ini merupakan merupakan bentuk yang  tidak logis. Atas dasar itu, dapat diketahui bahwa kata yang baku ialah diprokalmasikan dan diprokalmirkan merupakan kata yang tidak baku. Katadiproklamsikan berarti ‘diumumkan’.

  1. prosen dan persen

Kata persen berasal dari bahasa Inggris percent. Seperti unsur serapan yang lain, kata percent ataupercentage ini hanya diubah seperlunya agar bentuk serapannya masih bisa dibandingkan dengan bentuk aslinya. Serapan yanmg dimaksud adalah persen atau persentase. Jadi, yang diubah hanyalah /c/ menjadi /s/ dan huruf /t/ di akhir kata dibuang, dan age diubah menjadi  ase.

  1. rohaniwan dan rohaniawan

Kata rohani dan rohaniah semuanya diserap dari bahasa Arab. Rohani ialah kata benda lawan jasmani dan rohaniah berarti ‘yang bersifat rohani’. Demikian juga dapat dibandingkan dengann ilmu dan ilmiah. Ilmubersinonim dengan kata pengetahuan, sedangkan ilmiah berarti ‘yang bersifat ilmu’. Rohaniwan berarti ‘orang yang ahli tentang (ilmu) rohani, atau ilmu agama’. Itu sebabnya pendeta, pastur, nabi dan penghulu disebutrohaniwan.

Kalau bentuk rohaniawan itu diterima, itu berarti bahwa bentuk itu diambil dari rohaniah yang ditambah dengan akhiran –wan. Dari segi makna, bentuk itu tak dapat dipertangungjawabkan sebab rohaniah dalam bahasa Arab (diserap juga dalam bahasa Indonesia) yang berarti ‘yang bersifat rohani’. Oleh karena kata itu berarti seperti itu, maka tak dapat kita tambahkan akhiran –wan di belakangnya sebab arti kata bentukan itu tidak tepat; rohaniawan berarti ‘orang yang memiliki bersifat rohani’. Apa maksudnya itu? Berdasarkan alasan inilah, maka bentukan rohaniawan bukanlan bentuk yang dapat dipertanggungjawabkan.

40 relawan dan sukarelawan 

Dalam pemakaian bahasa Indonesia sering kita temukan penggunaan kata relawan dan sukarelawan. Penggunaan kedua kata itu menyebabkan sebagian pemakai bahasa mempertanyakan bentuk manakah yang benar dari kedua kata itu?

Dalam hal ini, kita perlu memahami bahwa imbuhan –wan itu berasal dari bahasa Sankerta. Imbuhan itu digunakan bersama kata benda (nomina) seperti pada kata

bangsa + -wan —–      bangsaawan

harta    + -wan —–      hartawan

rupa     + -wan  —–     rupawan

Imbuhan itu menyatakan tentang ‘orang yang memiliki seperti yang disebukan pada kata dasar’. Jadi,bangsawan berrati ‘orang yang memiliki bangsa’ atau ‘keturunan raja dan atau kerabatnya’; hartawan ‘oarng yang memiliki harta; rupawan ‘orang yang memiliki rupa yang elok’ atau ‘orang yang elok rupa’.

Dalam perkembangannya, arti imbuhan meluas. Pada kata ilmuwan, negarawan, sastrawan, misalnya, imbuhan –wan menyatakan ‘orang yang ahli dalam bidang yang disebutkan pada kata dasarnya. Dengan demikian, ilmuwan berarti ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu tertentu; negarawan ‘orang yang ahli dalam bidang kenegaraan; sastrawan ‘orang yang ahli dalam bidang sastra’.

Pada kata seperti olahragawan, usahawan, imbuhan –wan berarti orang yang berprofesi dalam bidang yang disebutkan pada kata dasar’. Jadi, olahragawan berarti’ orang yang memiliki profesi dalam bidang olah raga, usahawan ‘orang yang berprofesi dalam bidang usaha (tertentu)’.

Pada contoh itu terlihat bahwa imbuhan –wan pada umumnya dilekatkan pada kata benda (nomina), seperti bangsa, harta, ilmu, olah raga, dan usaha. Imbuhan-wan tidak pernah dilekatkan pada kata kerja (verba).

Berdasarkan kenyataan itu, penggunaan imbuhan –wan pada kata relawan dipandang tidak tepat. Hal ini sama kasusnya dengan penambahan –wan pada kata kerja pirsa yang menjadi pirsawan. Dalam hal ini pilihan bentuk kata yang benar adalah pemirsa, yaitu orang yang melihat dan memperhatikan atau menonton siaran televisi.

Kata sukarelawan mengandung pengertian orang yang dengan sukacita melakukan sesuatu tanpa rasa terpaksa. Kata sukarela ini berasal dari kata dasar sukarela dan imbuhan –wan.

Dalam kamus Besar bahasa Indonesia (1996;070) pun, bentukan kata yang ada adalah sukarelawan, sedangkan kata relawan tidak ada. Oleh karena itu, kata yang sebaiknya kita gunakan adalah sukarelawan, bukan relawan.

  1. semena-mena dan tidak semena-mena

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta dicantumkan sebagai berikut.

mena, tidak semena-mena: tidak dengan kira-kira, semau-maunya, sewenang-wenang, tidak beralasan yang patut.

Melihat yang tercetak di dalam kamus itu, Anda tahu bahwa ungkapan yang benar bukan semena-mena,melainkan tidak semena-mena. Kata tidak di depan kata semena-mena sama sekali tidak boleh dihilangkan, seperti pemakaiannya dalam kalimat kutipan dari surat kabar: Semua tamu sama di mata kami, kata karyawati yang telah berpengalaman tadi. “ Ada yang baik dan sopan, ada pula yang seme-mena dan kurang ajar, baik tamu domestik maupun tamu asing”. Ungkapan yang sama artinya dengan sewenang-wenang ialah tidak semena-mena bukan semena-mena. Berbuat sewenang-wenang terhadap seseorang sama artinya dengan’berbuat tidak semena-mena terhadap seseorang’. Kata tidak dalam ungkapan itu berfungsi menentukan arti ungkapan itu. Oleh karena itu kata tidak jangan dihilangkan. Tentu saja tidak pandai tidak sama denganpandai saja tanpa tidak; tidak berwibawa tidak sama artinya dengan berwibawa. Yang pertama bersifat ingkar, sedangkan yang ke dua justru sebaliknya.

Sengaja ungkapan tidak semena-mena ini dibicarakan di sini karena pemakaiannya kacau. Kadang-kadang orang mengatakan atau menulis tidak semena-mena, tetapi kadang-kadang juga hanya semena-mena.Ungkapan yang benar ialah yang menggunakan kata tidak dengan arti yang sama dengan sewenang-wenang,yaitu tidak semena-mena.

  1. sistim dan sistem

Kata systeem (Belanda) dan system (Inggris). Dahulu, kata Indonesianya sistim karena kita mengindonesiakan kata bahasa Belanda  systeem. Bunyi teem dekat dengan bunyi tim. Itu sebabnya kata itu dijadikan sistim. Pada saat ini ditetapkan bahwa yang digunakan sebagai acuan  adalah bahasa bahasa Inggris. Oleh karena itu, kata system-lah yang diambil dan diindonesiakan menjadi sistem.

  1. standard dan standar

Kata–kata di atas berasal dari bahasa asing bahasa Inggris. Ada dua pendirian yang kita pegang dalam mengindonesiakan kata asing: 1) bentuk yang dipungut itu disesuaikan dengan bentuk bahasa Indonesia (sistem fonologi dan morfologinya); 2) sedapat-dapatnya ejaannya dekat dengan ejaan aslinya (visual). Mari kita teliti kata yang ditanyakan di atas?

Dalam bahasa Inggris ada kata standard. Kata itu diserap  dan diindonesiakan menjadi standar. Mungkin Anda bertanya, “Mengapa /d/ pada akhir kata itu dihilangkan?” jawabnya< “Bunyi itu tidak berfungsi dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, dibuang saja. Contoh seperti itu dapat dilihat pada kata lain seperti impordan ekspor yang berasal dari bahasa Inggris import dan export (sama dengan bahasa Belanda). Bunyi /t/ pada akhir kata dihilangkan karena tidak berfungsi” . Kalau bunyi akhir yang tidak berfungsi itu diambil, maka akan timbul kesulitan bila memberi akhiran pada kata itu. Misalnya, kata standard yang diserap, bila diberi imbuhan pen-an, maka hasilnya ialah penstandardan, padahal bila bentuk standar yang diambil, maka hasilnya ialahpenstandaran. Bentuk ini lebih sesuai karena sama dengan bentuk lain dalam bahasa Indonesia:penggambaran, pelemparan. Bentuk menstandarkan lebih mudah diucapkan dibandingkan denganmenstandardkan karena terdapat tiga konsonan berurutan /rdk/.

  1. standardisasi dan standarisasi

Sekarang kita beralih pada bentuk  standardisasi dan standarisasi. Mana yang betul atau baku? Kata itu diserap dari bahasa Inggris standardization. Dalam bahasa Indonesia, bunyi –ion pada akhir kata Inggris dijadikan –si. Hal ini terjadi karena banyak kata yang telah diserap dahulu dari bahasa Belanda yang berakhir –tie (ucapannya /si/ dan sama dengan –tion dalam bahasa Inggris itu). Bahasa Belanda untuk kata itustandardsatie. Bunyi /z/ dalam bahasa Inggris yang dalam bahasa Belanda /s/ dijadikan /s/ dalam bahasa Indonesia. Yang lain tidak diubah karena prinsip yang dipegang ” sedekat mungkin dengan ejaan bahasa asalnya”. Hasilnya standardisasi.

 45.Ubah pada  Merubah dan Mengubah

Kata mengubah kata dasarnya adalah ubah.  Jadi, bila kata dasarnya ubah, maka bentuk awalan yang muncul ialah meng-, bukan mer-, sehingga bentukan yang betul ialah mengubah, bukan merubah..

Hasil pekerjaan mengubah ialah pengubahan. Kata merubah mungkin timbul karena orang mengacaukannya dengan bentuk dengan berawalan ber- yaitu berubah. Bentuk berubah dibentuk dari kata dasar ubah yang mendapat awalam ber-, bukan kata dasar rubah dengan awalan be-. Hal, hasil atau caraberubah ialah perubahan.

  1. zaman dan jaman

Kata zaman merupakan serapan dari bahasa Arab.  Kata ini ini diserap secara utuh. Kata zaman berarti ‘jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu’ atau ‘masa’ dan ‘kala’ atau ‘waktu’. Katajaman termasuk kata yang tidak baku.

sumber:

http://piiekaa.blogspot.co.id/2012/10/kesalahan-berbahasa-dan-bahasa-yang.html

http://kbbi.web.id/.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s