Analisa Kalimat Majemuk di dalam Artikel Kompas

Pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas tentang kalimat majemuk.
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua buah klausa atau lebih yang saling dihubungkan dengan kata hubung (Konjungsi). Klausa – klausa tersebut berkedudukan sebagai anak kalimat dan induk kalimat.
Di dalam bahasa Indonesia ada empat jenis kalimat majemuk yang diklasifikasikan berdasarkan hubungan antar klausa, diantaranya adalah kalimat majemuk setara, bertingkat, rapatan dan campuran. Pada kesempatan kali ini marilah kita bahas macam – macam kalimat majemuk lebih jauh lagi.
Macam – macam kalimat majemuk
1. Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang kedua klausanya memiliki hubungan setara atau sederajat.
Ciri – ciri kalimat majemuk setara
1. Antar klausa memiliki hubungan koordinatif, sehingga bisa berdiri sendiri meskipun dipisahkan.
2. Klausa yang satu berkedudukan sama dengan klausa lainnya.
3. Konjungsi yang menghubungkan biasanya berupa, dan, lalu, kemudian,  bahkan,ketika, setelah,         dan sebelum.
Contoh :
Klausa 1  = Ayah sedang berkebun.
Klausa 2 = Ibu sedang memasak di dapur.
Ayah sedang berkebun dan Ibu sedang memasak di dapur.
Contoh – contoh kalimat majemuk setara :
1. Kakek sedang tertidur lelap sedangkan nenek sedang membaca Koran.
2. Budi sangat pandai dalam hal akademik, tetapi dia tidak pandai dalam hal olahraga.
3. Ibu telah menyiapkan sarapan pagi sebelum ayah bangun dari tempat tidurnya.
4. Paman datang dari Jakarta ketika aku sedang menonton televisi di ruang tamu.
5. Burung – burung kembali ke sarangnya setelah matahari terbenam di barat.
2. Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang klausa – klausanya memiliki hubungan yang tidak sejajar atau sederajat. Dengan kata lain, klausa – klausa tersebut ada yang berkedudukan sebagai induk kalimat dan anak kalimat.
Ciri – ciri kalimat majemuk bertingkat
1. Salah satu klausa / anak kalimat tidak tidak dapat berdiri sendiri. Dengan kata lain, akan tidak memiliki arti jika dipisah.
2. Kata penghubungnya berupa jika, ketika, walaupun, bahwa, bagaikan, sebab, dan sehingga
Contoh
Klausa 1 / Induk kalimat = Gempa yang sangat dahsyat terjadi di Nepal
Klausa 2 / Anak kalimat = Bangunan dan rumah rata dengan tanah.
Gempa yang dahsyat mengguncang Nepal sehingga bangunan dan rumah rata dengan tanah.
Contoh – contoh kalimat majemuk bertingkat
1. Aku akan datang ke rumah Andi jika tidak hujan deras.
2. Budi sedang sakit ketika teman – temannya mengajak dia bermain.
3. Semua toko di Pasar Baru tetap buka walaupun tanggal merah.
4. Perilaku Budi menunjukan bahwa dia adalah anak yang baik hati.
5. Hari ini sangat cerah bagaikan lampu yang bersinar.
6. Ani tidak pernah terlambat ke sekolah sebab rumahnya dekat.
7. Agung melempar kucing itu ke tanah sehingga menjadi kotor.
3. Kalimat Majemuk Rapatan
Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk yang terdiri dari beberapa kalimat tunggal yang digabungkan menjadi satu. Kalimat – kalimat tunggal tersebut dirapatkan atau digabung dengan hanya menyebutkan bagian yang tidak sama dan dipisahkan dengan tanda koma (,), dan konjungsi dan.
Ciri – ciri majemuk rapatan
1. Bisa dipisahkan menjadi dua buah kaalimat tunggal atau lebih.
2. Dipisahkaan dengan tanda koma, dan konjungsi dan, serta, dan juga.
Contoh:
Ibu memasak ayam goreng.
Ibu memasak ikan goreng.
Ibu memasak nasi goreng untuk makan malam.
Ibu memasak ayam, ikan, dan nasi goreng untuk makan malam.
Contoh – contoh kalimat majemuk rapatan.
1. Aku mengunjungi Museum Fatahillah dan Monumen Nasional di Jakarta.
2. Ayah memberiku buku, tas, dan sepatu baru.
3. Kakek minta dibelikan susu, roti, sabun mandi serta pasta gigi.
4. Budi mengajak Nia, Andi, Shinta serta Agung pergi ke pasar.
5. Ani sangat pintar dalam hal memasak, membersihkan tempat tidur, dan merapikan baju.
4. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang merupakan gabungan dari kalimat majemuk setara dan bertingkat.
Ciri – ciri kalimat majemuk campuran
1. Memiliki lebih dari dua buah klausa.
2. Dihubungkan dengan dua buah konjungsi seperti pada kalimat majemuk setara dan campuran.
Contoh :
Klausa 1= Teman – temanku telah pulang
Klausa 2 = Aku baru sampai.
Klausa 3 = Aku datang tepat waktu
Ketika aku baru sampai, teman – temanku telah pulang padahal aku datang tepat waktu.
Contoh – contoh kalimat majemuk campuran.
1. Saat kebakaran itu terjadi, rumah sedang kosong sehingga tidak ada korban yang terluka.
2. Budi merupakan anak yang pintar, tetapi sayangnya tidak rajin sehingga kepintarannya tersebut menjadi sia – sia.
3. Joko selalu sarapan pagi sebelum dia berangkat sekolah, meskipun hanya nasi putih saja.
Jika kita menganalisis sebuah artikel, maka bisa dilihat sebagai berikut

 

Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum

Rabu, 13 Maret 2013 | 10:45 WIB

Oleh Hafid Abbas Guru Besar Universitas Negeri Jakarta

 

KOMPAS.com – Dalam satu dekade terakhir, dunia pendidikan di Tanah Air seakan terus terbelenggu dalam dilema. Pada masa Kabinet Indonesia Bersatu Pertama 2004-2009, Wapres Jusuf Kalla gigih melaksanakan pengendalian mutu pendidikan dengan pemberlakuan standar ujian nasional. Tidak ada toleransi kelulusan bagi mereka yang tidak melewati standar minimum dari sejumlah mata pelajaran yang diujikan, Akibatnya, masyarakat seakan mengalami sentakan sosial ketika melihat ada sekolah yang tidak satu pun siswanya lulus karena kelaziman sebelumnya secara nasional kelulusan selalu di kisaran 100 persen atau mendekati 100 persen.

Alasan Kalla ketika itu sangat sederhana. Jika sekolah selalu meluluskan siswanya 100 persen, siswa merasa tidak perlu belajar, guru tidak termotivasi mengajar sungguh-sungguh, dan orangtua tidak merasa perlu ikut bertanggung jawab atas mutu pendidikan. Cara ini, menurut Kalla, adalah mekanisme peningkatan mutu pendidikan yang paling murah dan mudah dilaksanakan. Dengan demikian, pendidikan kita menjadi tanggung jawab semua pihak (siswa, masyarakat, dan pemerintah) menuju pencapaian mutu yang lebih tinggi. Selanjutnya, bangsa kita tak lagi akan menjadi kuli dari Malaysia.

Sewaktu menjabat sebagai Menko Kesra pada 2003, Kalla menemukan tingkat kesukaran ujian akhir jenjang SD di Malaysia untuk Bahasa Inggris relatif sebanding dengan kesukaran ujian akhir jenjang SLTA di Indonesia. Tingkat kesukaran IPA dan Matematika jenjang SLTP relatif sama dengan jenjang SLTA. Sementara standar kelulusan nasional Malaysia dengan tingkat kesukaran tersebut pada 2003 adalah 6, sedangkan Indonesia 3. Jika tiap tahun standar kelulusan dinaikkan 0,5, berarti mutu pendidikan Indonesia tertinggal 9-12 tahun dari Malaysia. Dengan standar kelulusan itu, dapat dipastikan terdapat peningkatan mutu pendidikan kita secara bertahap dan pada waktunya Indonesia akan berada pada posisi yang sejajar dan bahkan mengungguli Malaysia.

Kini, keadaannya kembali lagi ke tingkat kelulusan yang mendekati 100 persen. Pada tahun ajaran 2010, untuk jenjang SMA/MA, misalnya, tingkat kelulusan peserta ujian nasional mencapai 99,22 persen. Tingkat kelulusan di jenjang SLTP dan SMK juga relatif sama. Akibatnya, ujian nasional tidak lagi menjadi sarana yang memotivasi siswa, orangtua, dan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Kebijakan yang telah diletakkan Kalla terkesan ditinggalkan begitu saja oleh kabinet baru. Masyarakat seakan disuguhkan satu tontonan drama kekuasaan. Betapa pun kebesaran dan manfaat yang telah diletakkan masa lalu seakan tidak lagi mendapat tempat karena peletaknya tidak lagi di kekuasaan.

Dilema pendidikan
Dalam artikel di Kompas, 27 Agustus 2012, Wapres Boediono dengan tegas menyebutkan, sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum. Akibatnya, terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

Akibat dari kerisauan Wapres itu, tiba-tiba timbullah proyek perombakan kurikulum yang terkesan dipaksakan. Kurikulum 2013 hasil perombakan kurikulum sebelumnya harus segera diberlakukan meski masyarakat luas belum melihat hasil satu penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa mutu pendidikan kita terus merosot karena kesalahan kurikulum. Apakah tidak ada faktor lain yang lebih dominan dari kurikulum? Misalnya, sebagaimana telah diungkapkan Mendikbud Mohammad Nuh sendiri di hadapan Komisi X DPR pada 21 Maret 2011, terdapat 88,8 persen sekolah di Indonesia—SD hingga SMA/SMK—belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Lalu, mengapa bukan itu yang dibenahi lebih dahulu?

Perubahan kurikulum dadakan ini cermin ketiadaan kerangka besar arah pembenahan pendidikan nasional. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, keliru besar bila pembenahan pendidikan di semua jenjang, jenis, dan jalur—baik di pusat maupun di tiap kabupaten/kota—dilakukan secara parsial dan tidak menyentuh sistem karena tanpa didasari hasil pengkajian ilmiah.

Dalam era Orde Baru, misalnya, di berbagai periode kabinet, sejak periode Mashuri, Soemantri Brodjonegoro, Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Wardiman Djojonegoro, Wiranto Arismunandar, hingga kabinet era Reformasi, betapa banyak gagasan inovatif dan strategis. Namun, gagasan-gagasan itu terkesan bersifat temporer, terlaksana sebatas masa jabatan menteri yang bersangkutan. Betapa banyak dana yang telah dihabiskan, tetapi akhirnya upaya tersebut tidak cukup terlihat dampaknya bagi pembenahan masalah pendidikan. Lihatlah, misalnya, pengembangan Sekolah Pembangunan, proyek CBSA, pengajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan pengembangan link and match.

Bahkan, jika kita membuka lembaran masa lalu, terlihat betapa lebih seabad silam visi besar pendidikan sudah dirumuskan Boedi Oetomo pada 1908. Angkatan ini sudah mengungkapkan dalam anggaran dasarnya yang dirumuskan pada Pasal 3: (1) usaha pendidikan dalam arti seluas-luasnya; (2) peningkatan pertanian, peternakan, dan perdagangan; (3) kemajuan teknik dan kerajinan; (4) menghidupkan kembali kesenian pribumi dan tradisi; (5) menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan; dan (6) hal-hal yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa. Dalam pembahasan program juga telah dibahas pembangunan perpustakaan rakyat dan pendidikan untuk perempuan.

Sungguh begitu banyak pemikiran dan langkah besar yang telah dilakukan para pendahulu kita, tetapi hilang begitu saja, tidak diteruskan penerusnya. Jika kita selalu mengedepankan egoisme sektoral dan kepentingan politik pencitraan, kita akan selalu berada dalam cengkeraman dilema.

Proyek dan pencitraan
Tidak tertutup kemungkinan apa yang telah dilakukan periode Mohammad Nuh akan diabaikan menteri berikutnya. Akibatnya, kita tidak akan pernah mencapai prestasi besar. Tembok China adalah salah satu wujud mahakarya peradaban umat manusia karena, meski mulai dibangun sebelum periode Dinasti Qin pada 722 SM, dinasti mana pun pada era kekuasaan berikutnya terus memelihara dan meneruskan hingga kini.

Modus perubahan kurikulum lebih terkesan sebagai ikhtiar dadakan karena tidak didahului persiapan yang lebih matang. Memang, perombakan kurikulum pilihan paling aman. Sebab, jika ikhtiar dadakan itu keliru, kekeliruan itu baru akan terungkap 10-20 tahun kemudian. Lagi pula, jika terdapat perubahan satu lembar kurikulum, dimungkinkan dilahirkan begitu banyak proyek baru yang dapat menyerap anggaran sekian triliun rupiah.

Semoga pendidikan kita tidak terus-menerus terbelenggu dalam dilema dan berjalan di tempat. Sudah waktunya kenegarawanan lebih dikedepankan dari sekadar pencitraan sesaat.

Kurikulum Pendidikan Haruslah Memberi Tantangan bagi Siswa

Senin, 18 Februari 2013

Oleh Suyanto, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta

KOMPAS.com – Para ilmuwan tanpa mengenal lelah telah meneliti berbagai faktor penting yang berkontribusi pada kesuksesan hidup. Mereka tertarik mencari faktor penentu yang secara signifikan bisa digunakan untuk memprediksi sukses kehidupan.

Dari penelitian itu ditemukanlah faktor-faktor penting yang ikut menyumbang kesuksesan seseorang. Faktor-faktor penentu sukses itu akhirnya diterjemahkan oleh para ahli pendidikan ke dalam kurikulum dan program pembelajaran.

Pendek kata, dengan ditemukannya faktor penentu sukses itu, dunia pendidikan juga ikut berlomba-lomba dan berkontemplasi untuk merumuskan filosofi, paradigma, strategi, dan metodologi pembelajaran. Pada gilirannya, rumusan itu digunakan untuk mengonstruksi kurikulum yang mampu memberi bekal ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik untuk mendaki kesuksesan hidup.

Faktor signifikan yang telah mendapat perhatian luas untuk memprediksi sukses seseorang, antara lainintelligence quotient (IQ, kecerdasan otak) dan emotional quotient (EQ, kecerdasan emosional). Kecerdasan yang disebut terakhir, oleh penemunya, Daniel Goleman (1995), diberi nama emotional intelligence, bukanemotional quotient.  Kelahiran EQ membuat arah baru pendidikan secara luas. Sebab, dalam banyak penelitian terbukti IQ tak lagi menjadi satu-satunya prediktor sukses peserta didik di masa datang.

Sebelum muncul EQ, IQ-lah yang didewa-dewakan dunia pendidikan untuk mempermudah pekerjaan pembelajaran dalam memberi bekal atau virus sukses peserta didik atau bahkan mahasiswa sekalipun. Implikasinya, pengembangan kurikulum hampir di seluruh dunia pada era jayanya IQ selalu berorientasi pada upaya bagaimana mengemas program pembelajaran yang bisa memberikan kecerdasan otak secara maksimal kepada para peserta didik.

Setelah EQ ditemukan oleh Goleman, kurikulum serta-merta harus dan mutlak memperhatikan faktor-faktor non-kognitif, seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, pengendalian emosi, dan memahami emosi orang lain. Bahkan, Goleman mengklaim IQ hanya berkontribusi 20 persen terhadap kesuksesan peserta didik setelah mereka hidup dalam masyarakat nantinya. Ternyata 80 persen justru ditentukan oleh faktor lain di luar IQ, di mana EQ masuk di dalamnya secara signifikan.

Oleh karena itu, jika suatu bangsa ingin membuat kurikulum yang bisa mengantarkan para peserta didik jadi orang sukses, kurikulum itu juga harus memberikan menu belajar yang mencakup aspek lain selain kecerdasan, seperti sikap, perilaku, kepribadian, keberagamaan, budi pekerti, dan kecerdasan otot (muscle memory). Bahkan, praksis pendidikan di Jepang memasukkan aspek memori dan kecerdasan otot dalam kurikulumnya sejak kelas I dan II SD melalui aktivitas otot (keterampilan) dalam bentuk kegiatan origami secara intensif. Origami mampu menanamkan kepada para siswa sifat dan sikap kreatif, inovatif, sekaligus membangun kecerdasan/ingatan otot para siswa.

”Adversity quotient”
Sudah lengkapkah prediktor kesuksesan yang bisa dikemas dalam kurikulum setelah adanya penemuan IQ, EQ—juga spiritual intelligent (SQ, kecerdasan spritual), dan kecerdasan otot? Ternyata belum! Dunia ilmu pengetahuan tetap melakukan penelitian untuk membuat prediktor kesuksesan memiliki daya prediksi yang makin robust, semakin kecil kesalahannya sampai mencapai derajat kepercayaan 99 persen. Atau tingkat koefisien alpha 0,01 jika kita meminjam terminologi uji signifikansi statistik inferensial. Prediktor baru itu adalah adversity quotient (AQ).

Dua tahun setelah Daniel Goleman menemukan EQ, muncullah AQ yang ditemukan oleh Paul Stoltz (1997). Aplikasi AQ dalam proses pendidikan memang belum seluas aplikasi EQ dan SQ. Saat ini, AQ banyak diaplikasikan dalam perusahaan besar untuk kepentingan rekrutmen dan pelatihan pegawainya. Dunia pendidikan juga harus memanfaatkan temuan Paul Stoltz ini. Mengapa demikian? Karena AQ pada hakikatnya merupakan kapasitas seseorang untuk menghadapi berbagai bentuk tekanan dan ketidaknyamanan hidup dalam situasi tertentu. Orang yang AQ-nya tinggi akan tahan banting, dalam arti fisik, mental, dan kejernihan berpikir. Lebih penting lagi, ia segera bisa kembali ke keadaan normal setelah berhadapan dengan berbagai tekanan dan tantangan. Sebaliknya, orang yang AQ rendah akan selalu menyalahkan lingkungan ketika dia gagal sehingga dia tidak dapat mengambil keputusan untuk menuju sukses. Bidang keilmuan AQ ditopang tiga pilar utama: psychoneuroimmunology, neuropsychology, dan cognitive psychology.

Orang hidup tak ada yang bebas dari tekanan dan tantangan. Dokter punya tekanan saat di meja operasi, wartawan memiliki tekanan dan tantangan ketika harus menghadapi tenggat berita, menteri dan presiden selalu menghadapi tekanan dari ekspektasi masyarakat. Siswa pun selalu menghadapi tekanan dan tantangan ketika harus belajar materi baru yang jauh lebih sulit, datang dan pulang tepat waktu, dan menyerahkan tugas individu serta kelompok. Kalau semua tekanan itu berhasil dilewati, sukseslah mereka. Kalau gagal, akan reduplah suasana hati dan pikiran saat itu.

Hidup adalah tantangan
Oleh sebab itu, kapasitas untuk bisa menghadapi berbagai tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak mereka duduk di bangku sekolah. Siswa perlu mengalami sendiri berbagai prosedur serta proses ilmu dan pengetahuan. Kerena itu, kegiatan mengamati, bertanya, menalar, bereksperimentasi, juga pengalaman membangun jejaring perlu diakomodasikan dalam sebuah kurikulum.

Dengan cara seperti itu, siswa akan bisa merespons berbagai kemungkinan dan tekanan hidupnya kelak setelah hidup dalam masyarakat. Respons positif terhadap tekanan yang dihadapi siswa akan memberi jalan kepada kesuksesan hidup kelak. Belajar tidak cukup hanya yang bersifat menyenangkan, tetapi juga harus menantang bagi siswa kita. Mengapa begitu? Karena hidup identik dengan tantangan.

Kurikulum dan proses pembelajaran perlu memberi tempat yang cukup agar siswa bisa melakukan observasi, analisis, hipotesis, sintesis, dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam proses belajarnya. Sebab, pada saatnya nanti, meminjam konsepnya Jerome Brunne, para siswa akan melakukan apa yang disebutnya transfer of learning and principles dalam kehidupan nyata.

Jadi, belajar tidak cukup dengan pendekatan yang menyenangkan semata. Selebihnya, harus menantang agar siswa bisa berlatih untuk membangun AQ-nya. Semoga begitu.

ARTIKEL PERTAMA

Paragraf pertama :

1.Kalimat majemuk bertingkat : “Tidak ada toleransi kelulusan bagi mereka yang tidak melewati standar minimum dari sejumlah mata pelajaran yang diujikan, Akibatnya, masyarakat seakan mengalami sentakan sosial ketika melihat ada sekolah yang tidak satu pun siswanya lulus karena kelaziman sebelumnya secara nasional kelulusan selalu di kisaran 100 persen atau mendekati 100 persen”

Paragraf Kedua :

  1. Kalimat majemuk campuran : “Alasan Kalla ketika itu sangat sederhana. Jika sekolah selalu meluluskan siswanya 100 persen, siswa merasa tidak perlu belajar, guru tidak termotivasi mengajar sungguh-sungguh, dan orangtua tidak merasa perlu ikut bertanggung jawab atas mutu pendidikan.”
  2. Kalimat majemuk setara penjumlahan : “Cara ini, menurut Kalla, adalah mekanisme peningkatan mutu pendidikan yang paling murah dan mudah dilaksanakan.”

Paragraf Ketiga :

  1. Kalimat majemuk Setara pertentangan : “Sementara standar kelulusan nasional Malaysia dengan tingkat kesukaran tersebut pada 2003 adalah 6, sedangkan Indonesia 3.”
  2. Kalimat majemuk bertingkat : “. Jika tiap tahun standar kelulusan dinaikkan 0,5, berarti mutu pendidikan Indonesia tertinggal 9-12 tahun dari Malaysia.”
  3. Kalimat Majemuk Setara Penjumlahan : “Dengan standar kelulusan itu, dapat dipastikan terdapat peningkatan mutu pendidikan kita secara bertahap dan pada waktunya Indonesia akan berada pada posisi yang sejajar dan bahkan mengungguli Malaysia.”

Paragraf Keempat : –

Paragraf Kelima :

1.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Betapa pun kebesaran dan manfaat yang telah diletakkan masa lalu seakan tidak lagi mendapat tempat karena peletaknya tidak lagi di kekuasaan.”

Paragraf keenam :

1.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum.”

  1. Kalimat Majemuk Setara Pertentangan : “Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.”

Paragraf Ketujuh :

1.Kalimat Majemuk Bertingkat : “. Kurikulum 2013 hasil perombakan kurikulum sebelumnya harus segera diberlakukan meski masyarakat luas belum melihat hasil satu penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa mutu pendidikan kita terus merosot karena kesalahan kurikulum.”

  1. Kalimat majemuk setara berurutan : “. Lalu, mengapa bukan itu yang dibenahi lebih dahulu?”

Paragraf Kedelapan :

1.Kalimat Majemuk Campuran : “. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, keliru besar bila pembenahan pendidikan di semua jenjang, jenis, dan jalur—baik di pusat maupun di tiap kabupaten/kota—dilakukan secara parsial dan tidak menyentuh sistem karena tanpa didasari hasil pengkajian ilmiah.”

Paragraf Kesembilan :

1.Kalimat majemuk setara penjumlahan : “ Dalam era Orde Baru, misalnya, di berbagai periode kabinet, sejak periode Mashuri, Soemantri Brodjonegoro, Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Wardiman Djojonegoro, Wiranto Arismunandar, hingga kabinet era Reformasi, betapa banyak gagasan inovatif dan strategis.”

2.Kalimat majemuk setara pertentangan : “ Betapa banyak dana yang telah dihabiskan, tetapi akhirnya upaya tersebut tidak cukup terlihat dampaknya bagi pembenahan masalah pendidikan.”

  1. Kalimat majemuk setara penjumlahan : “Lihatlah, misalnya, pengembangan Sekolah Pembangunan, proyek CBSA, pengajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan pengembangan link and match.”Paragraf Kesepuluh :
  2. Kalimat majemuk bertingkat : “ jika kita membuka lembaran masa lalu, terlihat betapa lebih seabad silam visi besar pendidikan sudah dirumuskan Boedi Oetomo pada 1908.”
  3. Kalimat majemuk setara penjumlahan : “(5) menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan; dan (6) hal-hal yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa.”Paragraf Kesebelas :
  4. Kalimat majemuk bertingkat : “Sungguh begitu banyak pemikiran dan langkah besar yang telah dilakukan para pendahulu kita, tetapi hilang begitu saja, tidak diteruskan penerusnya.”
  5. Kalimat majemuk bertingkat : “Jika kita selalu mengedepankan egoisme sektoral dan kepentingan politik pencitraan, kita akan selalu berada dalam cengkeraman dilema.”Paragraf Keduabelas :
    1. Kalimat majemuk Campuran : “Tembok China adalah salah satu wujud mahakarya peradaban umat manusia karena, meski mulai dibangun sebelum periode Dinasti Qin pada 722 SM, dinasti mana pun pada era kekuasaan berikutnya terus memelihara dan meneruskan hingga kini.”

    Paragraf Ketigabelas :

  6. Kalimat Majemuk Bertingkat : “Modus perubahan kurikulum lebih terkesan sebagai ikhtiar dadakan karena tidak didahului persiapan yang lebih matang.”
  7. Kalimat majemuk Bertingkat : “Sebab, jika ikhtiar dadakan itu keliru, kekeliruan itu baru akan terungkap 10-20 tahun kemudian.”
  8. Kalimat majemuk Bertingkat : “jika terdapat perubahan satu lembar kurikulum, dimungkinkan dilahirkan begitu banyak proyek baru yang dapat menyerap anggaran sekian triliun rupiah.”

Paragraf Keempatbelas :

1.Kalimat majemuk setara penjumlahan : “Semoga pendidikan kita tidak terus-menerus terbelenggu dalam dilema dan berjalan di tempat.”

ARTIKEL KEDUA

Paragraf Pertama : –

Paragraf Kedua : –

Paragraf Ketiga :

1.Kalimat Majemuk Setara Penjumlahan : “Pendek kata, dengan ditemukannya faktor penentu sukses itu, dunia pendidikan juga ikut berlomba-lomba dan berkontemplasi untuk merumuskan filosofi, paradigma, strategi, dan metodologi pembelajaran.”

Paragraf Keempat :

1.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Sebab, dalam banyak penelitian terbukti IQ tak lagi menjadi satu-satunya prediktor sukses peserta didik di masa datang.”

Paragraf Kelima :

1.Kalimat Majemuk Bertingkat : “ Sebelum muncul EQ, IQ-lah yang didewa-dewakan dunia pendidikan untuk mempermudah pekerjaan pembelajaran dalam memberi bekal atau virus sukses peserta didik atau bahkan mahasiswa sekalipun.”

Paragraf Keenam :

1.Kalimat Majemuk Campuran : “Setelah EQ ditemukan oleh Goleman, kurikulum serta-merta harus dan mutlak memperhatikan faktor-faktor non-kognitif, seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, pengendalian emosi, dan memahami emosi orang lain.”

2.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Bahkan, Goleman mengklaim IQ hanya berkontribusi 20 persen terhadap kesuksesan peserta didik setelah mereka hidup dalam masyarakat nantinya.”

Paragraf Ketujuh :

1.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Oleh karena itu, jika suatu bangsa ingin membuat kurikulum yang bisa mengantarkan para peserta didik jadi orang sukses, kurikulum itu juga harus memberikan menu belajar yang mencakup aspek lain selain kecerdasan, seperti sikap, perilaku, kepribadian, keberagamaan, budi pekerti, dan kecerdasan otot (muscle memory).”

2.Kalimat Majemuk Setara Penjumlahan : “Bahkan, praksis pendidikan di Jepang memasukkan aspek memori dan kecerdasan otot dalam kurikulumnya sejak kelas I dan II SD melalui aktivitas otot (keterampilan) dalam bentuk kegiatan origami secara intensif.”

3.Kalimat Majemuk Setara Penjumlahan : “Origami mampu menanamkan kepada para siswa sifat dan sikap kreatif, inovatif, sekaligus membangun kecerdasan/ingatan otot para siswa.”

Paragraf Kedelapan :

1.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Sudah lengkapkah prediktor kesuksesan yang bisa dikemas dalam kurikulum setelah adanya penemuan IQ, EQ—juga spiritual intelligent (SQ, kecerdasan spritual), dan kecerdasan otot?”

2.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Atau tingkat koefisien alpha 0,01 jika kita meminjam terminologi uji signifikansi statistik inferensial.”

Paragraf Kesembilan :

1.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Dua tahun setelah Daniel Goleman menemukan EQ, muncullah AQ yang ditemukan oleh Paul Stoltz (1997).”

2.Kalimat Majemuk Setara Penjumlahan : “Saat ini, AQ banyak diaplikasikan dalam perusahaan besar untuk kepentingan rekrutmen dan pelatihan pegawainya.”

3.Kalimat Majemuk Campuran : “Karena AQ pada hakikatnya merupakan kapasitas seseorang untuk menghadapi berbagai bentuk tekanan dan ketidaknyamanan hidup dalam situasi tertentu.”

4.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Lebih penting lagi, ia segera bisa kembali ke keadaan normal setelah berhadapan dengan berbagai tekanan dan tantangan.”

5.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Sebaliknya, orang yang AQ rendah akan selalu menyalahkan lingkungan ketika dia gagal sehingga dia tidak dapat mengambil keputusan untuk menuju sukses.”

Paragraf Kesepuluh :

1.Kalimat Majemuk Setara Penjumlahan : “Orang hidup tak ada yang bebas dari tekanan dan tantangan.”

2.Kalimat Majemuk Campuran : “Siswa pun selalu menghadapi tekanan dan tantangan ketika harus belajar materi baru yang jauh lebih sulit, datang dan pulang tepat waktu, dan menyerahkan tugas individu serta kelompok.”

3.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Kalau semua tekanan itu berhasil dilewati, sukseslah mereka.”

4.Kalimat Majemuk Campuran : “Kalau gagal, akan reduplah suasana hati dan pikiran saat itu.”

Paragraf Kesebelas :

1.Kalimat Majemuk Campuran : “Oleh sebab itu, kapasitas untuk bisa menghadapi berbagai tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak mereka duduk di bangku sekolah.”

2.Kalimat Majemuk Setara Penjumlahan : “Siswa perlu mengalami sendiri berbagai prosedur serta proses ilmu dan pengetahuan.”

3.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Kerena itu, kegiatan mengamati, bertanya, menalar, bereksperimentasi, juga pengalaman membangun jejaring perlu diakomodasikan dalam sebuah kurikulum.”

Paragraf Keduabelas :

1.Kalimat Majemuk Setara Penjumlahan : “Dengan cara seperti itu, siswa akan bisa merespons berbagai kemungkinan dan tekanan hidupnya kelak setelah hidup dalam masyarakat.”

2.Kalimat Majemuk Pertentangan : “Belajar tidak cukup hanya yang bersifat menyenangkan, tetapi juga harus menantang bagi siswa kita.”

3.Kalimat Majemuk Bertingkat : “Mengapa begitu? Karena hidup identik dengan tantangan.”

Paragraf Ketigabelas :

1.Kalimat Majemuk Setara Penjumlahan : “Kurikulum dan proses pembelajaran perlu memberi tempat yang cukup agar siswa bisa melakukan observasi, analisis, hipotesis, sintesis, dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam proses belajarnya.”

2.kalimat Majemuk Bertingkat : “Sebab, pada saatnya nanti, meminjam konsepnya Jerome Brunne, para siswa akan melakukan apa yang disebutnya transfer of learning and principles dalam kehidupan nyata.”

Advertisements

Jasa Penulisan Biografi

Penulis Biografi Centre adalah jasa penulisan konten buku kisah hidup dari Natanael Albertus Blog. Yaitu penulisan untuk buku biografi, autobiografi, memoar dan novel biografi oleh tim penulisan yang telah berpengalaman. Jasa ini kami dirikan untuk mengabadikan kisah hidup Anda yang berharga hingga menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang dalam menjalani hidup.

Dengan menulis buku kisah hidup jadikan setiap bagian peristiwa yang Anda jalani dalam hidup menjadi pelajaran berharga, bukan hanya bagi diri Anda sendiri tapi juga bagi banyak orang. Dan ini hanya bisa dicapai jika Anda menulis kisah hidup tersebut menjadi sebuah buku.

Buku kisah hidup inilah yang nantinya akan menjadikan kita akan selalu dikenang sampai kapanpun dengan nilai-nilai luhur yang pernah kita perbuat selama hidup.

Mulailah proses penulisan kisah hidup Anda bersama tim kami yang telah berpengalaman dalam penulisan buku kisah hidup, sehingga mampu memberikan hasil konten yang memuaskan sesuai keinginan Anda.

Kami akan memberikan pelayanan penulisan konten Anda: mulai penentuan jenis buku kisah hidup yang akan ditulis, pengumpulan data-data hidup Anda, wawancara untuk akurasi dan pengembangan data serta penulisan konten sendiri yang kami lakukan dengan antusias untuk menghasilkan buku kisah hidup yang akan selalu dikenang oleh para pembaca.

Berminat? Hubungi Natanael (Konsultan Penulisan Biografi) HP 08113436830

sumber rekanan: Jasa Penulis Buku

Penulisan Tanda Titik Koma yang Benar

Sebagai penulis, kita sering melupakan bagaimana penulisan tanda titik koma. Hal ini penting karena tanda titik koma mempengaruhi isi kalimat dan penafsiran pembaca. Coba bayangkan, bagaimana jika kalimat tidak diberi titik koma.

1. Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk setara.

Misalnya:

Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku-buku yang baru dibeli ayahnya.

Ayah mengurus tanaman di kebun; Ibu menulis makalah di ruang kerjanya.

Adik membaca di teras depan; saya sendiri asyik memetik gitar menyanyikan puisi-puisi penyair kesanganku.

2. Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Dalam hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan.

Misalnya:

Syarat-syarat penerimaan pegawai negeri sipil di lembaga ini:

(1) berkewarganegaraan Indonesia;

(2) berijazah sarjana S1 sekurang-kurangnya;

(3) berbadan sehat;

(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat setara atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata hubung.

Misalnya:

Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaos; pisang, apel, dan jeruk.

Agenda rapat ini meliputi pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara; penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

Masih banyak ilmu yang harus dipelajari untuk mengedit naskah. Bukan hanya editor yang harus bisa mengedit naskah, tapi juga penulis.

 

 

 

Penulisan Partikel

Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Bacalah buku itu baik-baik!

Apakah yang tersirat dalam surat itu?

Siapakah gerangan dia?

Apatah gunanya bersedih hati?

2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.

Hendak pulang tengah malam pun sudah ada kendaraan.

Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.

Jika Ayah membaca di teras, Adik pun membaca di tempat itu.

Catatan:

Partikel pun pada gabungan yang lazim dianggap padu ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.

Bagaimanapun juga, tugas itu akan diselesaikannya.

Baik laki-laki maupun perempuan ikut berdemonstrasi.

Sekalipun belum selesai, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.

Penulisan Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada.

Misalnya:

Bermalam sajalah di sini.

Di mana dia sekarang?

Kain itu disimpan di dalam lemari.

Kawan-kawan bekerja di dalam gedung.

Dia berjalan-jalan di luar gedung.

Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.

Mari kita berangkat ke kantor.

Saya pergi ke sana kemari mencarinya.

Ia datang dari Surabaya kemarin.

Saya tidak tahu dari mana dia berasal.

Cincin itu terbuat dari emas.

Catatan:

Kata-kata yang dicetak miring di dalam kalimat seperti di bawah ini ditulis serangkai.

Misalnya:

Kami percaya sepenuhnya kepadanya.

Dia lebih tua daripada saya.

Dia masuk, lalu keluar lagi.

Bawa kemari gambar itu.

Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.

Masih banyak ilmu yang harus dipelajari untuk mengedit naskah. Bukan hanya editor yang harus bisa mengedit naskah, tapi juga penulis.

Cara Menulis Biografi dan Menyusunnya

Biografi menganalisa dan menerangkan kejadian-kejadian dalam hidup seseorang. Lewat biografi, akan ditemukan hubungan, keterangan arti dari tindakan tertentu atau misteri yang melingkupi hidup seseorang, serta penjelasan mengenai tindakan dan perilaku hidupnya.

Biografi biasanya dapat bercerita tentang kehidupan seorang tokoh terkenal atau tidak terkenal, namun demikian, biografi tentang orang biasa akan menceritakan mengenai satu atau lebih tempat atau masa tertentu. Biografi seringkali bercerita mengenai seorang tokoh sejarah, namun tak jarang juga tentang orang yang masih hidup. Banyak biografi ditulis secara kronologis. Beberapa periode waktu tersebut dapat dikelompokkan berdasar tema-tema utama tertentu misalnya tema tentang tokoh terkenal, dsb.

Berikut contoh biografi salah satu pesebakbola muda berbakat yang sedang berkiprah di Piala Dunia 2014, Neymar.

Contoh biografi : Neymar

Contoh biografi tentang Neymar

Brazil tampaknya tidak pernah kehabisan talenta-talenta baru dalam dunia sepakbola. Kita sudah cukup akrab dengan nama Pele, Dunga, Cafu, Roberto Carlos, Romario, Ronaldo, Ronaldinho, Kaka  yang bersinar terlebih dahulu di dunia sepak bola maka kini muncul lagi bintang baru. Tak heran bila Brazil dan talentanya sering dijuluki Selecao atau yang terpilih.

 

Muda dan berbakat. Itulah salah satu idiom yang menempel di diri pesebakbola Neymar,Jr. Lahir dari pasangan Neymar da Silva,Sr dan Nadine Santos pada 5 Februari 1992 di Mogi das Cruzes, Brazil. Sejak kecil, pemilik nama asli neymar da Silva Santos Junior ini sudah tertarik dengan si kulit bundar berkat ayahnya, Neymar, Sr, yang juga mantan atlit sepakbola. Kecintaan Neymar kecil tumbuh dalam dunia futsal dan sepakbola jalanan. Dan selama itu, ayahnya selalu membimbing Neymar,Jr menekuni talentanya.

Tahun 2003, Neymar pindah bersama keluarganya ke Sao Vicente, dimana dia mulai bermain untuk tim junior Portuguesa Santista, lalu di tahun yang sama, ia pindah ke Santos dan bergabung dengan klub sepak bola Santos FC. Karirnya saat itu sudah mulai terlihat cerah. Beranjak dari keluarga yang serba pas-pasan, Neymar berhasil menjadikan sepakbola sebagai katalis untuk meningkatkan mutu hidup keluarganya. Di usianya yang ke 15, Neymar berhasil meraih 10.000 real per bulan dan tahun berikutnya, gajinya sudah naik lebih dari sepuluh kali lipat menjadi 125.000 real per bulan. Dengan uang hasil jerih payahnya itu, keluarganya dapat membeli rumah di kawasan Vila Belmiro. Di luar gaji, Santos juga mendapatkan beberapa sponsor serta kontrak professional penuh di grupnya pada usia 17.

Neymar sudah dilirik oleh klub Eropa sejak tahun-tahun awal karirnya. Tercatat di tahun 2010, Santos FC, tempat Neymar bernaung, telah menolak tawaran sebesar 12 juta pounds dari West Ham United dan tawaran sebesar 20 juta pounds dari Chelsea di tahun yang sama. Pada saat itu, sudah tersirat bahwa Neymar hendak melanjutkan karirnya ke benua Eropa namun pilihannya untuk saat itu masih berada di Santos FC. Itu diketahui dari wawancaranya dengan sebuah kantor berita Daily Telegraph bahwa adalah mimpinya untuk bermain di Eropa dan sebenarnya, ia cukup tertarik dengan tawaran Chelsea. Bertahun-tahun menunggu hingga tibalah di waktu yang tepat. Ayahnya yang juga merupakan manajer Neymar beserta agennya mengungkapkan bahwa Neymar hendak pindah ke Eropa sebelum Piala Dunia 2014. Tak ayal lagi, saat pertandingan terakhirnya membela Santos, Neymar tak kuasa menahan tangis saat lagu kebangsaan Brazil dimainkan.

Bulan Mei 2013 adalah bulan bersejarah bagi Neymar. Barcelona FC sebuah klub besar Spanyol meminang Neymar dan gayung pun bersambut. Neymar kini satu klub dengan bintang kelas atas Amerika Latin lainnya Lionel Messi. Meskipun  pada awalnya baik Neymar maupun bekas klubnya tutup mulut perihal jumlah transfernya, wakil presiden klub Barcelona membocorkan bahwa nilai transfer Neymar sebesar 87.2 juta euro. Itu membuatnya masuk ke dalam 10 pemain dengan nilai transfer tertinggi. Belakangan ada pihak yang menyebutkan bahwa nilai transfer Neymar ‘hanya’ di kisaran 40 hingga 50 juta euro saja. Posisinya di Barcelona tidak pasti karena ia bisa mengisi berbagai macam posisi baik striker, pemain sayap atau gelandang penyerang. Tidak jarang  ia menjadi tandem sang striker Lionel Messi.

Neymar juga adalah seorang ayah. Tepatnya pada usianya yang ke 19, ia dilaporkan telah memiliki putra bernama, David Lucca. Ibu sang anak bernama Carolina Dantas namun Neymar tidak memiliki hubungan khusus dengannya. Meskipun begitu Neymar adalah pria yang bertanggung jawab. Hak asuh anaknya diambil secara penuh dan sang ibu dibelikan rumah di Sao Paulo, Brazil.Kabar terakhir, Neymar dikabarkan baru putus dari kekasihnya, seorang aktris Brazil, Bruna Marquezine. Neymar juga adalah seorang penganut Kristiani. Menurutnya hidup baru berarti saat tujuan tertinggi adalah untuk mengikut Kristus. Idolanya dalam soal agama adalah rekan satu negaranya, Ricardo Kaka.

Selain di sepakbola, ia juga merambah dunia hiburan, ia punya andil di perkembangan dunia music Brazil dan baru saja menjadi cover sebuah game sepakbola Pro Evolution Soccer. Neymar juga membintangi berbagai macam iklan serta jadi duta berbagai brand. Sebuah pencapaian yang cukup luar biasa untuk seseorang yang baru berusia 22 tahun. Banyak pihak yang meramalkan bahwa sinar Neymar akan semakin terang seiring bertambahnya waktu.

Neymar yang baru saja melewati ulang tahunnya yang ke 22

Image courtesy of http://www.fcbarcelona.com/football/first-team/detail/article/happy-birthday-neymar 

 

Langkah Menulis Biografi:

  1. Kumpulkan data.
  2. Mintalah pendapat sang tokoh.
  3. Mulai menulis dengan bahan tersedia.
  4. Setelah tulisan selesai, mintalah sang tokoh membaca draf yang sudah ditulis. Jika tokoh setuju,
  5. Siap diterbitkan

Kami menerima jasa penulisan biografi. Jika berminat hub 08113436830 Natan