Bagaimana Cara Menulis Arikel Ilmiah?

Saya dipercaya mengajar di Universitas Kristen Petra sejak tahun 2012. Waktu itu mengajar di Fakultas Desain Komunikasi Visual untuk mata kuliah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi mata kuliah wajib tempuh di seluruh universitas di Indonesia.

Pada mata kuliah Bahasa Indonesia di universitas lebih ditekankan pada pengajaran kepenulisan dan tehnik presentasi. Kepenulisan yang saya ajarkan yakni menulis artikel ilmiah, makalah, dan public speaking.

Materi Menulis artikel saya sampaikan pada awal pertemuan.

 

Tidak mudah mengajarkan tentang cara menulis artikel meskipun pada mahasiswa karena mereka lebih suka berbicara dibandingkan menulis.

Pertemuan pertama saya langsung melatih mereka dengan free writing.  Alasan saya, “free writing” dapat melatih seorang penulis untuk mengeluarkan sesuatu yang “original” dari dalam dirinya. Bagaimana mendeteksi bahwa sesuatu yang “original” telah dapat dikeluarkan?

 

Teknik yang kedua, yang disebut “mindmapping” atau “clustering” , saya manfaatkan untuk memilih dan mengembangkan ide dalam bentuk “peta” (gambar). Dalam menggunakan teknik ini, saya tidak merujuk ke Tony Buzan (penemunya), melainkan ke Dr. Gabriele Luser Rico.

Rico mengadopsi “mindmapping” menjadi “clustering” . Salah satu pesan Rico yang sangat penting adalah menulislah sesuatu secara sedikit demi sedikit. Menulis harus dikembangkan perlahan-lahan secara kelompok demi kelompok ide.

Bagaimana penerapannya?

Penerapan teknik “clustering” hampir persis dengan penerapan teknik “mindmapping” : Ambil selembar kertas ukuran A4 dan posisikan secara landscape. Di tengah kertas, tuliskanlah topik yang ingin dieksplorasi secara tertulis. Topik tersebut ingin kita kembangkan menjadi sebuah ide yang menarik (up to date).

Misalnya, kita ingin menulis tentang kursi. Topik tentang kursi ini ingin kita kembangkan menjadi tulisan yang tidak biasa-biasa saja dan, nantinya, di dalam pengembangan itu kita dapat menemukan sebuah ide baru. Nah, langkah pertama yang harus kita tempuh adalah dengan meletakkan kata KURSI persis di tengah kertas A4.

Setelah itu, tariklah empat garis yang memancar dari tulisan KURSI menuju empat arah berbeda. Pandangi secara saksama empat garis itu. Kemudian, secara spontan, bubuhkan satu kata tanpa berpikir di atas keempat garis tersebut. Karena tanpa dipikirkan lagi, diharapkan keempat kata itu tidak ada yang berkaitan dengan kata kursi.

Misalnya saja, empat kata yang kita tuliskan adalah ufuk, meja, bau, dan duku. Kata meja jelas masih ada hubungannya dengan kursi. Untuk mendapatkan dan mengembangkan ide yang baru, kata meja ini terpaksa kita coret. Yang tersisa adalah ufuk, bau, dan duku.

bau   ⇐              ⇒         ufuk

kursi.jpg                                                           duku    ⇐                     ⇒meja

Dari ketiga kata tersisa, kita harus memilih satu kata. Misalnya, yang kita pilih adalah ufuk. Apa hubungannya kursi dan ufuk? Ya, jelas tidak ada. Pada tahap ini, kita harus berani berpikir untuk mengubah perspektif dalam memandang kata kursi.

Langkah selanjutnya yakni menggunakan jalur kursi-ufuk untuk mengembangkan ide. Buatlah tiga garis cabang dari jalur (garis) kursi-ufuk yang titiknya dari kata ufuk. Lalu bubuhkan tiga kata lagi secara spontan di atas tiga garis cabang tersebut. Misalnya kita membubuhkan kata merah, darah, dan utang.

kursi-ufuk        

                                                                                  ↓          ↓            ↓

                                 merah    darah    utang↓

Pengembangan ide telah mencapai tahap kedua dan menurut Rico, kita harus berhenti dan meng-cluster ide kita itu. Untuk meng-cluster jalur kursi-ufuk, kita harus memilih satu kata dari tiga kata cabang yang ada. Misalnya, kita memilih kata MERAH.

Nah, sampai di sini, kita telah menemukan jalur kursi-ufuk-merah. Setelah kita menemukan tiga kata ini, cobalah tulis dengan menggunakan tiga kata tersebut-kursi, ufuk, merah-untuk menemukan sebuah ide yang lain daripada yang lain.

Selamat berlatih.

Advertisements

Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Era Globalisasi

Dalam menghadapi era global saat ini, tampaknya kita harus berbenah untuk menghadapi berbagai fenomena yang terjadi. Tujuan pembelajaran bahasa yang mengarah pada penggunaan bahasa perlu mendapat pencermatan kita. Saat ini perhatian para guru bahasa Indonesia tertuju pada upaya menerampilkan siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia. Pertanyaan kritis untuk kondisi seperti itu adalah apakah kita akan berhenti melakukan upaya dalam pembelajaran bahasa manakalah para siswa terampil menggunakan bahasa.

Pada era global diperlukan pikiran-pikiran kritis dan kreatif. Kemampuan berpikir tersebut perlu mendapat perhatian para pendidik, termasuk guru bahasa Indonesia. Untuk itu, pembelajaran bahasa Indonesia saat ini tidak sekadar mencapai keterampilan berbahasa Indonesia, tetapi juga mengarah pada peningkatan kemampuan berpikir tersebut. Dengan kata lain, sudah saatnya kita bertanya diri apa yang bisa kita berikan untuk menjadikan siswa berpikir kritis dan kreatif melalui pembelajaran bahasa Indonesia.

Berpikir kritis merupakan salah satu kegiatan manusia yang saat ini sangat diperlukan untuk mengembangkan berbagai segi kehidupan, baik sosial, budaya, maupun teknologi. Alvino (dalam Cotton,1991) menyatakan bahwa, “berpikir kritis adalah proses menentukan kebenaran, ketepatan, atau penilaian terhadap sesuatu yang ditandai dengan mencari alasan dan alternatif, dan mengubah pandangan seseorang berdasarkan bukti”. Scriven & Paul (dalam Cotton,1991; Piaw, 2004:66) memberikan batasan terhadap berpikir kritis sebagai salah satu model berpikir tentang suatu subjek, isi, atau masalah – yang digunakan oleh seseorang untuk meningkatkan kualitas berpikirnya melalui penggunaan struktur berpikir secara cekatan dan menentukan standar intelektualnya. Kedua batasan tersebut memunculkan pemahaman bahwa berpikir kritis terkait dengan logika. Lebih lanjut Alvino menyatakan bahwa berpikir kritis disebut juga berpikir logis dan berpikir analitis.

Alvino membatasi berpikir kreatif sebagai cara melihat dan melakukan sesuatu yang baru yang ditandai dengan kelancaran (menghasilkan banyak gagasan), kelenturan (mengubah pandangan secara mudah), keaslian (memiliki kebaruan), dan elaborasi (membangun berbagai gagasan). Facione (1998) menyatakan bahwa berpikir kreatif atau berpikir inovatif adalah sejenis berpikir yang menimbulkan wawasan baru, pendekatan baru, perspektif yang segar, yang semuanya merupakan cara-cara baru untuk memahami dan menyusun sesuatu. Secara singkat Smalling (dalam Cotton,1991) memberikan batasan bahwa creative thinking is the ability to invent original ideas for accomplishing goals.

Kedua jenis berpikir tersebut sangat tepat untuk mendedah pembelajaran bahasa Indonesia saat ini. Mari kita merenung: sudahkah kita mengarahkan pembelajaran bahasa Indonesia untuk menjadikan siswa mampu berpikir kritis dan kreatif sehingga mereka dapat menghadapi berbagai tantangan dalam era global saat ini; bagaimana caranya sehingga pembelajaran bahasa Indonesia mampu menggerakkan pikiran kritis dan kreatif siswa.

sumber: Esten, Mursai. 2010. “Bahasa dan Sastra Sebagai Identitas Bangsa Dalam Proses Globalisasi”.

Peranan Bahasa Indonesia di era globalisasi

Jangan Remehkan Pelajaran Bahasa Indonesia!

sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia-5789b54bd17a611f05c18484

Selamat berjumpa lagi. Saya setuju saat membaca tulisan Tje Lee Goek

“Saat membimbing mahasiswa menulis skripsi atau tugas akhir yang kerap saya temui masalahnya bukan pada pengumpulan dan pengolahan data serta perhitungan matematis, melainkan pada cara mengungkapkan secara tertulis dan lisan apa yang mereka sudah kerjakan di lapangan, studio, dan laboratorium. Bahasa Indonesia lisan dan tulisannya ‘kacau’ karena tak sesuai kaidah dan tidak mudah dipahami.

Hal serupa juga masih terjadi pada mahasiswa tingkat Doktoral (Strata 3). Saya berlatar belakang ilmu teknik pernah merasakan hal itu. Saat ‘kolokium’ rekan-rekan satu angkatan diharuskan membaca buku-buku teori bahasa Indonesia yang sempat bikin ciut hati karena terdeteksi tata bahasa Indonesia penulisan makalah yang ‘kacau’. Heu heu heu.. Bahasa Indonesia tetap penting dan layak dijadikan kriteria utama penilaian di antara beragam disiplin ilmu.

Saat saya mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia, juga tidak sedikit dari mahasiswa semester 3 belum mengerti bagaimana membedakan artikel dengan berita. Sungguh memprihatinkan. Mereka juga belum mengerti bagaimana merangkai kalimat dengan baik. Mereka terbiasa copy paste dari artikel yang diambil melalui Google.

Kesimpulan:

Jangan sepelekan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tanpa penguasaan Bahasa Indonesia Anda tidak bisa melewati ‘jembatan’ suatu ilmu ke ilmu lainnya. Lebih dari itu, Anda tidak bisa membaginya ke ‘Muara Segala Ilmu’, yakni KEHIDUPAN. Kalau sudah begitu, untuk apa jadi pinter?

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pebrianov/bu-jangan-remehkan-pelajaran-bahasa-indonesia_5789b43d947e611d048b457c