Gunakan Gaya Menulismu Sendiri

Di dalam artikel berjudul “Sebelum memutuskan menjadi penulis ketahui dulu 10 hal-penting-ini”, berisi pedoman bagaimana jika kita mau menulis. Salah satu dari sepuluh hal penting ialah gunakan gaya menulismu sendiri.

Kita terlahir dengan segala keunikan yang menyerta. Kita boleh menulis dengan tema yang sama dengan yang orang lain kerjakan, tapi tidak dalam cara kita memaknai, mengemas, dan juga menuturkan.

Mengapa kita harus menjiplak gaya penulis lain? Biarlah mereka tetap dengan gaya mereka. Kita bangun gaya sendiri. Menjadikan mereka inspirasi itu berbeda dengan duplikasi. Jika kita ingin menjadikan mereka menjadi lompatan awal prestasi, maka kita gunakan benchmarking, yaitu sikap total addicted dengan penulis pujaan.

Suka dengan gaya menulisnya J.K. Rowling pengarang serial Harry Potter itu? Maka, bacalah semua buku-bukunya. Perhatikan benar bagaimana cara dia membangun kalimat. Cara dia meletakkan titik dan komanya. Cara dia membuka dan menutup paragraf. Cara dia membangun karakter. Cara dia mengatur setting yang apik. Cara dia mengejutkan pembaca dengan hal-hal seru. Jadilah kecanduan benar dengan semua yang berhubungan dengan dia. Kuasai semua. Jadilah mata-mata untuk semua karya-karyanya. Baik itu berupa buku ataupun hanya sekadar artikel darinya.

Setelah semua itu dilakukan, timang-timang, serap, saring, kemudian campurkan dengan gaya kita sendiri. Kita berguru kepadanya, kemudian mengolah dengan kanuragan kita sendiri. Kita mengupas habis keunggulannya, kemudian dipadukan dengan keunggulan kita sendiri. Di dua keunggulan yang tergabung menjadi satu itulah, kita melakukan lompatan prestasi.

Nalarnya sederhana. Saat pembaca memegang erat karyamu, mereka sedang ingin membaca karya kamu, bukan karya J.K. Rowling. Tapi, bila kau menggunakan mentah-mentah cara J.K. Rowling, untuk apa mereka membaca karyamu? Seharusnya mereka langsung membaca karya Rowling. Sederhana sekali.

sumber: sebelum-memutuskan-menjadi-penulis-ketahui-dulu-10-hal-penting-ini

Penulisan Tanda Titik Koma yang Benar

Sebagai penulis, kita sering melupakan bagaimana penulisan tanda titik koma. Hal ini penting karena tanda titik koma mempengaruhi isi kalimat dan penafsiran pembaca. Coba bayangkan, bagaimana jika kalimat tidak diberi titik koma.

1. Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk setara.

Misalnya:

Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku-buku yang baru dibeli ayahnya.

Ayah mengurus tanaman di kebun; Ibu menulis makalah di ruang kerjanya.

Adik membaca di teras depan; saya sendiri asyik memetik gitar menyanyikan puisi-puisi penyair kesanganku.

2. Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Dalam hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan.

Misalnya:

Syarat-syarat penerimaan pegawai negeri sipil di lembaga ini:

(1) berkewarganegaraan Indonesia;

(2) berijazah sarjana S1 sekurang-kurangnya;

(3) berbadan sehat;

(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat setara atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata hubung.

Misalnya:

Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaos; pisang, apel, dan jeruk.

Agenda rapat ini meliputi pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara; penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

Masih banyak ilmu yang harus dipelajari untuk mengedit naskah. Bukan hanya editor yang harus bisa mengedit naskah, tapi juga penulis.

 

 

 

Aturan Penggunaan Huruf Tebal dalam Penulisan

Pada saat kita menulis karya ilmiah terdapat aturan tentang penggunaan huruf tebal.
Berikut adalah penggunaan huruf tebal dalam penulisan, sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia No. 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan:

1. Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran

Misalnya:
Judul : HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
Bab : BAB I PENDAHULUAN
Bagian bab: 1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Tujuan
Daftar, indeks, dan lampiran:
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMBANG
DAFTAR PUSTAKA
INDEKS
LAMPIRAN
 

2. Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring.

Misalnya:
Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.
Saya tidak mengambil bukumu
Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.
Seharusnya ditulis dengan huruf miring:
Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.
Saya tidak mengambil bukumu
Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.

3. Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi.

Misalnya:
kalah v 1 tidak menang …2 kehilangan atau merugi …; 3 tidak lulus … ; 4 tidak menyamai
mengalah v mengaku kalah
mengalahkan v 1 menjadikan kalah …; 2 menaklukkan …; 3 menganggap kalah …
terkalahkan v dapat dikalahkan …
Catatan:
Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dicetak dengan huruf tebal diberi garis bawah ganda.
(sumber: Buku Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan)